Saya Menggambar Lagi, Menuruti Anak Kecil di Dalam Diri
Gara-gara hobi baru ini, adikku bilang “Sedang menuruti inner child?” Saya pun mengiyakan saja, setelah dipikir-pikir, guyonan itu mungkin ada benarnya.
Ada satu memori masa kecil yang mendadak melintas dengan jernih: tayangan menggambar Pak Tino Sidin di TVRI. Saya memang tak lagi mengingat detail setiap episodenya, namun satu hal yang tertanam kuat adalah cara beliau memamerkan dan mengapresiasi setiap gambar kiriman anak-anak. Bentuknya beragam, tak semuanya sempurna, tetapi seluruhnya mendapat tempat. Tanpa celaan, tanpa syarat bahwa sebuah karya harus bagus dulu untuk layak dihargai. Dari kalimat khasnya, “Ya, bagus!”, saya mengenal menggambar sebagai sebuah ruang yang menyenangkan dan ramah.
Kala itu, modal saya hanya sebatang pensil dan buku gambar murah. Tak ada koleksi alat melukis bernilai mahal, apalagi guru gambar tempat menimba ilmu. Bagi seorang anak yang tumbuh di desa, membeli perlengkapan seni atau mengikuti les privat adalah wacana yang terlalu mewah.
Seiring berjalannya waktu, saya berhenti. Entah benar-benar ditinggalkan atau perlahan tergeser oleh riuhnya kehidupan, saya kurang pasti. Rasa suka itu mungkin tak pernah benar-benar padam, hanya saja ada hal-hal lain yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.
Beberapa waktu lalu, saya sempat mencoba merambah dunia digital menggunakan aplikasi MediBang. Rasanya cukup mengasyikkan, tetapi semangat itu hanya bertahan sekitar dua hingga tiga bulan sebelum akhirnya membentur titik jenuh. Sejak saat itu, kuas digital tak pernah lagi saya sentuh.
Pertemuan Tak Sengaja dengan Oil Pastel
Sampai suatu hari, sebuah unggahan di Instagram menghentikan guliran jempol saya. Awalnya saya mengira karya indah itu dibuat menggunakan cat minyak. Namun setelah dibaca lebih lanjut, perkiraan saya keliru. Itu adalah hasil sapuan oil pastel.
Rasa penasaran pun terpantik. Saya mulai berburu tutorial di internet, mengamati jemari para kreator yang menggoreskan batang-batang warna di atas kertas, mencampurnya, mengolah gradasi, hingga perlahan membentuk wujud yang hidup. Ada keseruan dalam proses itu yang membuat jemari saya gatal ingin ikut mencoba.
Maka, mulailah petualangan kecil berburu perlengkapan seni (art supplies).
Dunia lukis ternyata sangat luas dan beraneka ragam, pun dengan label harganya yang tak jarang membuat saya elus dada. Beberapa alat yang direkomendasikan dalam tutorial terasa cukup menguras kantong. Bagi seniman profesional, harga tersebut tentu sebanding dengan kebutuhan kerja. Namun bagi pemula yang baru hendak mengetuk pintu belajar, berinvestasi terlalu jauh rasanya belum masuk akal.
Keputusannya sederhana: saya membeli perlengkapan seadanya secara bertahap dan mulai berkarya dengan apa yang ada di tangan.
Menikmati Proses Tanpa Beban Target
Hingga kini, saya masih sering mengekor tutorial dan meniru karya orang lain. Belum ada karakter atau gaya personal yang terbentuk, dan saya pun belum tahu apakah kelak akan memilikinya. Namun entah saya yang terlalu percaya diri atau memang ada kemajuan, hasilnya ternyata tidak jelek-jelek amat. Setidaknya, cukup layak untuk memantik keberanian mencoba lagi.
Menariknya, hal paling mengejutkan bukanlah hasil akhir di atas kertas, melainkan kepuasan selama proses pembuatannya. Ada sensasi yang tak tertutupi ketika batang oil pastel bergesekan dengan tekstur kertas. Saya menikmati kepekatan warnanya, melihat lapisan demi lapisan bertumpuk, hingga mengamati dua warna berbeda yang membaur menjadi rona baru.
Kadang hasilnya presisi sesuai imajinasi. Kadang jauh dari harapan. Namun ajaibnya, bahkan ketika eksperimen itu gagal, saya tetap merasa bahagia.
Mungkin karena kali ini, saya sedang tidak mengejar apa-apa. Tak ada penilaian angka, tak ada ujian akademik, tak ada tuntutan klien, dan tak ada ambisi untuk diakui sebagai seniman.
Saya hanya perlu duduk tenang, membuka sketchbook, memilih warna oil pastel, lalu mulai menggoreskan garis demi garis.
Makin dewasa, kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa segala hal harus memiliki alasan fungsional. Belajar harus berbuah prestasi, membaca wajib menambah wawasan, dan membuat karya idealnya berujung monetisasi. Bahkan hobi pun kerap dituntut untuk punya nilai jual. Saya pun tak sepenuhnya bebas dari pola pikir serba-produktif ini. Namun, menggambar perlahan mengajari saya untuk tidak selalu berfokus pada hasil akhir.
Kadang, kita hanya butuh menikmati warna, menggoreskannya tanpa beban, membaurkannya, lalu tersenyum melihat apa pun yang hadir di atas kertas.
Menemukan Kembali Anak Kecil yang Dulu
Saya tidak ingin terburu-buru. Saya belum tahu apakah suatu hari nanti akan menemukan “gaya khas” dalam berkarya. Untuk saat ini, menikmati proses belajar dari tutorial dan meniru karya lain sudah lebih dari cukup. Lagi pula, saya tidak sedang berpacu dengan siapa pun.
Saya hanya sedang menggambar.
Lucunya, setelah bertahun-tahun tak menyentuh lembar kertas gambar, saya seperti bertemu kembali dengan anak kecil yang dulu duduk terpaku memegang pensil di depan televisi, menonton Pak Tino Sidin dan percaya bahwa menggambar adalah hal paling menyenangkan di dunia. Ternyata anak kecil itu tidak pernah hilang. Ia hanya telah dewasa, kini memegang sekotak oil pastel, dan memiliki sedikit lebih banyak kesempatan untuk bermain.
Sesekali sambil menikmati seduhan kopi yang hangat.