seniman-melukis-abstrak-memakai-kuas-di-atas-kanvas-dengan-cat-minyak

Saya Suka Belajar Hal-Hal yang Tidak Perlu

Ada masa ketika saya mulai bertanya-tanya: sebenarnya saya ini sedang melakukan apa?

Belakangan saya cukup sering mempelajari hal-hal yang tidak terlalu saya perlukan. Saya menulis artikel, membaca, menggambar, menulis cursive, mencoba bahasa asing, dan kini merawat sebuah blog.

Kalau dipikir-pikir, tidak semuanya berhubungan dengan pekerjaan. Tidak semuanya menghasilkan uang, dan beberapa mungkin tidak akan pernah menjadi sesuatu yang ‘serius’. Tapi saya senang melakukannya.

Saya memang tidak terlalu pandai menikmati keramaian. Berkumpul dengan banyak orang bisa menyenangkan sesekali, tetapi saya tidak selalu membutuhkannya untuk merasa baik-baik saja. Saya bisa betah duduk sendirian dengan buku, memegang pena, mencoba menggambar, atau membuka materi untuk mempelajari hal yang sama sekali baru.

Barangkali memang sesederhana itu cara saya menikmati waktu. Ada orang yang senang bepergian atau menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman. Saya justru menemukan kesenangan dalam sesuatu yang lebih sunyi yaitu, belajar.

Menariknya, saya jarang bertahan pada satu hal dalam waktu lama. Dulu menulis, lalu membaca lebih banyak. Belakangan menggambar, kemudian menulis cursive, dan sekarang bahasa asing. Di sela-selanya, saya malah memutuskan membuat sebuah blog.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri: sebenarnya mau jadi apa? Saya tidak tahu. Mungkin memang tidak semua hal harus menuju ke suatu tempat.

Belajar Karena Penasaran

Saya dulu terbiasa berpikir bahwa belajar harus punya tujuan. Belajar bahasa harus sampai lancar. Menggambar harus menghasilkan karya bagus. Menulis harus bisa menghasilkan uang. Membuat blog pun tentu harus punya pembaca.

Logika seperti itu begitu mudah muncul di kepala. Dan memang, tujuan itu penting untuk memberi arah. Namun semakin bertambah usia, saya mulai menikmati kemungkinan lain: tidak semua hal harus memiliki tujuan jelas sejak awal.

Kadang saya belajar sesuatu hanya karena penasaran. Saya ingin tahu prosesnya, ingin mencoba, dan ingin melihat apakah saya bisa. Sesederhana itu.

Dulu saya menganggap kebiasaan berpindah-pindah ini sebagai tanda tidak fokus. Sekarang saya melihatnya sebagai cara mengenal dunia. Saya menyukai proses menjadi tahu. Ada kepuasan kecil ketika sesuatu yang tadinya asing perlahan mulai masuk akal: satu huruf yang akhirnya bisa dibaca, satu bentuk yang mulai bisa digambar, atau satu kata baru yang tersimpan di kepala. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat saya ingin mencoba lagi.

Senangnya Menjadi Pemula

Hal serupa terjadi ketika saya kembali menggambar. Saya tidak punya rencana menjadi seniman, bahkan belum tahu apakah akan memiliki gaya sendiri. Saya hanya melihat sesuatu yang menarik, lalu ingin mencoba. Begitu juga dengan menulis cursive dan bahasa asing.

Ada kesenangan tersendiri dari menjadi pemula. Karena belum tahu banyak, kemajuan kecil pun terasa seperti penemuan besar. Hari ini belum bisa, besok mencoba lagi. Salah, mengulang, lalu tanpa disadari hal yang dulu sulit mulai terasa familier.

Menjadi pemula memberi kita izin untuk tidak sempurna. Kita tidak perlu langsung mahir atau menghasilkan karya untuk dipamerkan. Cukup tahu sedikit lebih banyak daripada kemarin. Barangkali itu sudah merupakan bentuk kemajuan yang utuh.

Tidak Semua Harus Menjadi Pekerjaan

Kita hidup di masa ketika hampir segala hal mudah sekali dikaitkan dengan produktivitas. Menulis dimonetisasi, menggambar dijual, membaca dijadikan konten, dan hobi diubah menjadi side hustle. Saya memahami logikanya, bahkan pernah berpikir demikian.

Namun, mungkin ada baiknya menyisakan beberapa ruang yang bebas dari tekanan itu. Ada buku yang boleh dibaca tanpa harus diulas. Ada gambar yang cukup selesai di lembar kertasnya. Ada bahasa yang dipelajari hanya karena kita suka melafalkannya. Dan ada tulisan yang mungkin hanya dibaca oleh beberapa pasang mata.

Blog ini pun mungkin salah satunya. Saya tidak tahu akan menjadi apa blog ini beberapa tahun ke depan. Mungkin berkembang, menemukan pembacanya, atau menghasilkan sesuatu. Atau mungkin ia hanya akan tetap menjadi rumah kecil di internet, sebuah tempat saya menyimpan tulisan, kegelisahan, dan berbagai ketertarikan yang datang silih berganti. Saya tidak keberatan dengan kemungkinan mana pun. Saya hanya senang membuatnya.

Mungkin Saya Memang Seperti Ini

Kadang rasa bersalah itu masih ada: merasa seharusnya bisa lebih fokus, menekuni satu hal, dan menjadi ahli. Namun hidup tidak selalu harus dijalani dengan cara seperti itu.

Saya mulai menerima bahwa rasa penasaran adalah cara saya bertumbuh. Belajar hal baru, meski tidak selalu menghasilkan apa-apa, tetap membuat hidup terasa sedikit lebih luas.

Mungkin saya memang tidak akan menjadi ahli dalam segala hal. Mungkin saya hanya seseorang yang senang belajar. Semakin bertambah usia, saya justru semakin menghargai kesenangan kecil ini: duduk sendiri dengan buku, memegang oil pastel, merangkai huruf, atau membuka laptop untuk merawat rumah kecil ini.

Tidak semuanya harus menjadi pencapaian. Tidak semuanya harus menghasilkan uang atau punya alasan yang bisa dijelaskan kepada orang lain. Beberapa hal boleh dilakukan hanya karena kita menyukainya.

Untuk saat ini, itu sudah cukup. Saya tidak sedang menuju ke mana-mana secara khusus. Saya hanya sedang berjalan, belajar sedikit demi sedikit, dan melihat ke mana rasa penasaran akan membawa saya.

Similar Posts