Kemerdekaan-Kemerdekaan Kecil yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Setiap bulan Agustus, ketika melihat anak-anak sekolah berbaris rapi di bawah terik matahari, ingatan saya selalu terbang kembali ke masa-masa seragam putih-merah dulu. Bukan karena saya memiliki kenangan manis sebagai juara lomba, melainkan sebaliknya.
Sebagai anak yang lebih nyaman berada di balik layar dan tidak pernah punya ambisi untuk tampil di depan umum, ada satu hal yang selalu membuat saya terseret ke tengah lapangan: tinggi badan. Karena postur saya tergolong paling tinggi di antara kawan sebaya, nama saya selalu otomatis masuk ke dalam daftar peserta lomba baris-berbaris. Saya tidak pernah meminta, tidak pula berpikir untuk protes. Kalau guru sudah menunjuk, ya ikut saja. Mungkin waktu itu saya belum mengenal apa itu personal boundaries.
Maka, rutinitas Agustus pun dimulai. Pulang sekolah bukan berarti bisa langsung bersantai di rumah. Kami harus berdiri lama di lapangan aspal, dijemur matahari, melangkah berulang kali, dan mengulang gerakan dari awal jika barisan dianggap kurang presisi. Yang paling sering saya keluhkan saat itu sebenarnya sederhana: waktu belajar dan bermain jadi berkurang hanya untuk persiapan lomba.
Lalu ada satu persoalan lain yang kalau diingat-ingat sekarang terasa cukup menggelitik: sepatu sekolah.
Sepatu Sekolah yang Serba Guna
Di zaman itu, bagi kami anak-anak desa, sepatu sekolah ya sepatu untuk segala urusan. Belum ada spesialisasi seperti sekarang—yang membedakan mana sepatu lari, sepatu jalan jauh, atau sepatu kasual. Sepatu hitam yang sama itulah yang kami pakai untuk duduk manis di kelas, berlari saat jam olahraga, berjalan jauh ke sekolah, hingga dipaksa berjuang melibas aspal panas saat latihan baris-berbaris.
Jika sedang beruntung, ada kawan dari keluarga berkecukupan yang dibelikan sepatu baru khusus untuk perlombaan. Namun bagi kami yang tidak punya pilihan, sepatu sekolah itulah yang dipaksa ikut bertualang.
Setelah berdiri dan berjalan berjam-jam di bawah terik Agustus, sepulang latihan kami hampir selalu membawa pulang dua oleh-oleh sekaligus: kaki yang pegal dan tumit yang lecet. Pegal karena berdiri terlalu lama, dan lecet karena sepatu yang tak dirancang untuk aktivitas berat itu terus bergesekan dengan kulit. Rasanya seperti baru menyelesaikan sebuah ekspedisi besar.
Namun anehnya, besoknya kami tetap berangkat sekolah lagi. Sebab, kemerdekaan saat itu tentu belum berarti bebas dari kewajiban hadir di kelas.
Kami tidak punya perlengkapan yang ideal, tidak punya sepatu empuk, dan tidak pernah benar-benar menikmati cuaca panas itu. Namun, kami tetap berbaris, tetap latihan, dan tetap menyelesaikan lomba dengan sepatu serba bisa itu. Momen kecil itu menyadarkan saya tentang cara anak-anak menjalani hidup: jika sesuatu harus dilakukan demi kebersamaan, ya dilakukan saja tanpa banyak alasan.
Ketika Pilihan Mulai Terasa Penting
Sewaktu kecil, hampir semua jalan hidup ditentukan oleh orang lain: sekolah di mana, jam berapa harus tidur, hingga keharusan ikut baris-berbaris karena postur tubuh dianggap pas. Kita hanya perlu menjalani alurnya.
Namun setelah dewasa, pilihan justru mendadak berlipat ganda. Anehnya, semakin banyak pilihan yang tersedia, kita justru makin sering merasa takut untuk memilih. Takut salah langkah, takut mengecewakan orang lain, takut dianggap egois, atau takut terlihat berbeda.
Tanpa sadar, kita belajar menjadi manusia yang terlalu mudah mengangguk dan berkata “Iya” demi menjaga perasaan orang di sekitar. Sampai pada suatu hari, kita baru tersadar bahwa terlalu sering berkata “Iya” kepada orang lain sering kali memaksa kita berkata “Tidak” pada kebutuhan diri sendiri.
Mungkin, menjadi dewasa adalah sebuah proses panjang untuk belajar bersuara jujur: “Cukup, kali ini saya tidak bisa,” tanpa harus dihantui rasa bersalah sepanjang malam.
Merdeka dari Perlombaan yang Tak Pernah Kita Ikuti
Selain lomba tujuh belas Agustus, ada perlombaan lain yang baru kita kenal setelah dewasa: lomba kehidupan.
Melalui layar media sosial, kita disuguhi pencapaian orang lain yang seolah bergerak secepat kilat: menikah, membeli rumah, naik jabatan, membangun bisnis, bepergian ke luar negeri, hingga pensiun muda. Sementara di sudut kamar, kita mungkin masih bingung memilih antara menyeduh Indomie rebus atau goreng untuk makan malam.
Kita sering kali merasa tertinggal dalam sebuah arena perlombaan yang sebenarnya tidak pernah kita daftarkan dari awal.
Pencapaian orang lain tentu boleh menjadi inspirasi, tetapi ia tidak pernah dirancang untuk menjadi tolok ukur keberhasilan kita. Ada orang yang memilih berlari, ada yang berjalan santai, dan ada pula yang sedang memutuskan berhenti sejenak karena kelelahan. Semuanya sedang menempuh jalannya masing-masing. Kita tidak harus tiba di tempat yang sama, di usia yang sama, dan dengan cara yang persis sama.
Kemerdekaan Menjadi Pemula dan Memeluk Ketidakpastian
Ada satu bentuk kemerdekaan lain yang baru saya syukuri belakangan ini: kebebasan untuk tidak langsung bisa.
Makin dewasa, rasanya makin sulit bagi kita untuk kembali menjadi seorang pemula. Saat ingin mempelajari sesuatu yang baru, pikiran kita sudah terdistraksi oleh hasil akhir, seperti takut jelek, takut salah, atau takut terlihat tidak kompeten. Padahal, bukankah setiap ahli pernah berdiri di titik tidak tahu apa-apa?
Ketika mulai membangun ruang kecil ini pun, saya melewati kekhawatiran yang sama. Ada banyak istilah teknis yang asing dan proses belajar yang merangkak dari nol. Namun, jika terus menunggu hingga merasa benar-benar siap, mungkin langkah pertama itu tidak akan pernah terayun. Menjadi pemula bukanlah sebuah kegagalan; kita hanya sedang membuka halaman pertama dari cerita yang baru.
Di sisi lain, kedewasaan juga mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan berarti kita sanggup mengendalikan seluruh jalan cerita. Ada kejadian yang datang tanpa permisi, ada rencana yang patah di tengah jalan, dan ada kekecewaan yang harus kita telan meski sudah mengusahakan yang terbaik.
Begitu pula dengan cara kita melihat rumah bersama ini, negeri tempat kita berpijak. Kadang ada rasa sakit, gundah, atau mempertanyakan keadaan ketika kenyataan tak berjalan sesuai harapan. Namun, persis seperti rumah tempat kita tumbuh, seberantakan atau melelahkan apa pun kondisinya, ia tetaplah rumah kita. Kita tidak meninggalkannya; kita merawatnya pelan-pelan dengan kapasitas kecil yang kita punya.
Kemerdekaan yang Sederhana
Tahun ini, ketika bendera merah putih kembali berkibar dan derap langkah anak-anak latihan baris-berbaris kembali terdengar di jalanan, saya tersenyum mengingat sosok diri sendiri sekian tahun lalu. Si anak jangkung yang selalu masuk barisan tanpa protes, berpanas-panasan dengan sepatu sekolah yang harus menanggung semua tugas sekaligus.
Ternyata, pengalaman sederhana itu menyimpan pelajaran yang baru saya pahami jauh setelahnya. Dulu saya bergerak hanya karena dipilih; kini saya memiliki ruang untuk memilih sendiri.
- Memilih apa yang ingin dipelajari.
- Memilih apa yang layak diperjuangkan.
- Memilih kapan harus beristirahat.
- Memilih apa yang perlu diikhlaskan.
- Dan memilih untuk tetap berjalan merawat harapan, meski hidup membawa kita ke arah yang tak pernah direncakan.
Mungkin itu sebabnya arti kemerdekaan terasa begitu berbeda saat kita dewasa. Ia bukan lagi sekadar perayaan riuh yang diulang setiap bulan Agustus, melainkan hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari dalam keberanian berkata tidak, dalam ketekunan merawat apa yang kita cintai, dan dalam kesediaan untuk terus melangkah bersama pilihan yang kita punya.
Selamat merayakan kemerdekaan.
Untuk adik-adik yang sedang berlomba: semoga menang. Untuk yang sedang latihan berbaris di bawah terik: semoga tidak kepanasan. Dan untuk kita semua yang sedang berusaha merawat hidup dan rumah kita meski dengan kaki yang pegal dan lecet: jangan lupa istirahat sejenak.
Seduh pelan-pelan. Sebab tidak semua rasa cinta dan kebebasan perlu diteriakkan dengan suara keras.