tangan- mengetik-memakai-mesin-ketik-manual-dengan-lampu

Tidak Semua yang Kita Mulai Harus Kita Selesaikan

Ada begitu banyak hal yang pernah ingin saya lakukan. Sebagian masih tersimpan jelas di ingatan, sebagian lagi sudah kabur perlahan, dan beberapa di antaranya mungkin hanya menjadi barang yang tertimbun di sudut rumah.

Saya pernah ingin menulis lebih banyak, membangun blog, membeli paket hosting karena merasa kali ini akan benar-benar serius, lalu perlahan meninggalkannya. Saya juga pernah mencoba berbagai hal baru yang di awal terasa menggebu-gebu, tetapi tidak bertahan cukup lama untuk menjadi bagian dari keseharian.

Dulu, saya mungkin akan melabeli hal-hal semacam itu sebagai kegagalan. Bukankah logika umum mengajarkan bahwa sesuatu yang telah dimulai seharusnya dituntaskan sampai garis finis? Namun semakin dewasa, saya justru mulai mempertanyakan anggapan itu.

Kita Terlalu Menyukai Cerita Keberhasilan

Sebagai manusia, kita begitu menyukai narasi keberhasilan: cerita tentang seseorang yang memulai dari titik nol, menerjang berbagai badai, bertahan, dan akhirnya meraih kemenangan. Cerita seperti itu memang menginspirasi, ada titik mulai yang jelas, perjuangan yang dramatis, dan penutup yang rapi.

Namun, yang jarang mendapat panggung adalah cerita tentang hal-hal yang tidak selesai: bisnis yang terpaksa gulung tikar, blog yang tak lagi diperbarui, draf buku yang tak pernah rampung, kursus yang hanya bertahan beberapa sesi, atau cita-cita yang perlahan dilepas karena arah hidup bergeser.

Padahal jika jujur, sebagian besar ruang kehidupan kita mungkin justru dipenuhi oleh cerita-cerita yang tak selesai itu. Kita mencoba sesuatu, menjalaninya selama beberapa waktu, lalu suatu hari menyadari bahwa hal tersebut tak lagi selaras dengan diri kita. Kita memilih berhenti, lalu melanjutkan langkah.

Sayangnya, kita kerap mengaitkan keputusan “berhenti” sebagai bukti ketidakkonsistenan, seolah-olah setiap hal yang pernah dimulai wajib diseret sampai garis akhir agar dianggap berharga. Padahal, belum tentu demikian.

Belajar dari Jejak yang Terhenti

Melihat ke belakang, perjalanan saya memang dipenuhi oleh hal-hal yang dimulai lalu ditinggalkan. Saya pernah membuat blog di Blogspot, berulang kali membeli hosting karena tergiur promo murah dengan janji kemudahan bagi pemula, hingga menuntaskan tantangan menulis 100 artikel di Medium sebelum akhirnya vakum.

Lalu, saya membangun Seduh.

Secara kasatmata, pola ini mungkin terlihat berulang: bersemangat di awal, berhenti di tengah jalan, lalu berpindah ke hal lain. Namun kali ini, saya memandangnya dari sudut yang berbeda.

Saya tidak merasa benar-benar mulai dari nol, sebab seluruh jejak yang pernah saya lewati ikut terbawa. Saya sudah pernah merasakan ritme menulis di internet, paham dinamika mengelola blog, tahu rasanya letupan semangat awal, dan mengerti bagaimana rasanya kehilangan dorongan untuk melanjutkan.

Pengalaman “berhenti” di masa lalu justru memberi saya peta tentang diri sendiri: apa yang benar-benar saya sukai, apa yang ternyata tidak bertahan lama, dan apa yang masih ingin saya perjuangkan. Tanpa semua percobaan yang tampak gagal itu, Seduh mungkin tidak akan pernah ada.

Barangkali, apa pun yang pernah kita tinggalkan tidak pernah benar-benar sia-sia.

Hadir Hanya untuk Satu Bagian Perjalanan

Kita sering berasumsi bahwa sesuatu yang bernilai harus berumur panjang. Jika sebuah hobi hanya bertahan beberapa bulan, kita buru-buru menyalahkan diri tidak konsisten. Jika sebuah proyek tidak berkembang sesuai ekspektasi, kita menganggap waktu yang terbuang sebagai kerugian.

Padahal, ada hal-hal yang memang hadir di hidup kita hanya untuk menemani satu fase tertentu. Sebuah buku mungkin hanya kita baca sekali, tetapi satu gagasannya bisa bertahan di kepala hingga bertahun-tahun. Sebuah pekerjaan mungkin tak menjadi karier seumur hidup, tetapi pelajarannya menjadi bekal berharga di tempat baru. Sebuah hobi mungkin hanya memberi energi untuk satu musim kehidupan sebelum minat kita bergeser.

Pengalaman tersebut tidak mendadak kehilangan makna hanya karena kita tidak melakukannya selamanya. Kita telah mendapatkan apa yang kita butuhkan darinya, dan setelah itu, kita berhak untuk melanjutkan perjalanan.

Berhenti Juga Membutuhkan Keberanian

Ada kalanya kita tahu bahwa sesuatu tak lagi cocok, tetapi kita terus memaksakan diri bertahan hanya karena merasa “sayang”. Kita sudah menginvestasikan waktu, uang, dan cerita ke banyak orang, sehingga terasa memalukan jika harus mengakui bahwa kita tak lagi ingin melanjutkannya. Kita takut dinilai mudah menyerah dan tidak konsisten.

Padahal, konsisten tidak berarti memaksakan diri terus berjalan di lorong yang salah. Memang ada perbedaan tipis antara berhenti karena sekadar kelelahan dengan berhenti karena kita benar-benar sudah selesai dengan hal tersebut. Kadang kita hanya butuh jeda, tetapi kadang kita memang sudah saatnya berpisah dari hal itu. Kita perlu memberi diri sendiri waktu untuk bisa membedakannya.

Semakin dewasa, saya makin menyadari bahwa kemungkinan dalam hidup ini terlalu luas untuk dijajal semuanya. Memilih satu hal berarti merelakan hal lainnya. Kita tidak harus menjadi penulis, pelukis, pebisnis, musisi, dan pembuat konten sekaligus hanya karena pernah tertarik pada semuanya.

Kita boleh mencoba beberapa hal, lalu memilih beberapa yang ingin dibawa lebih jauh. Dan jika di tengah jalan kita berubah pikiran, itu bukan tanda kita gagal mengenali diri sendiri—melainkan bukti bahwa kita sedang tumbuh makin mengenal siapa diri kita.

Antara Pengayem Ati dan Penerimaan

Mungkin akan ada yang membaca tulisan ini lalu berpikir bahwa saya sedang meromantisasi kegagalan, atau dalam istilah Jawa hanya sedang melakukan pengayem ati—mencari pembenaran agar kegagalan terasa lebih manis.

Bisa jadi. Saya tidak akan membantahnya.

Sebab, mungkin memang ada bagian dari diri kita yang perlu dihibur setelah harapan tidak berjalan sesuai rencana. Kita kecewa, merasa gagal, lalu berusaha memetik makna darinya agar bisa melangkah lagi. Namun, ini bukan berarti kita harus memoles setiap kegagalan dengan pembenaran yang indah.

Ada hal-hal yang memang gagal karena kita kurang berusaha, salah mengambil keputusan, atau tidak sanggup mempertahankannya. Kita boleh mengakui kesalahan itu dengan jujur. Namun setelahnya, hidup harus tetap berjalan.

Dan agar sanggup melanjutkan langkah, kadang kita hanya perlu berbisik pelan pada diri sendiri: ora opo-opo.

Ora opo-opo pernah salah memilih, ora opo-opo pernah berhenti, dan ora opo-opo pernah memulai sesuatu yang akhirnya tak dilanjutkan. Ini bukan untuk menghapus kenyataan kegagalan, melainkan agar kita tidak terus-menerus menghukum diri atas hal-hal yang telah lewat.

Sebuah Percobaan yang Bernama Seduh

Saya tidak tahu berapa lama Seduh akan bertahan, atau berapa banyak tulisan yang akan terlahir di sini. Mungkin suatu hari saya akan berhenti, atau mungkin ini menjadi hal yang saya tekuni dalam waktu yang panjang. Untuk saat ini, saya memilih untuk tidak terlalu memusingkannya. Saya hanya ingin menulis dan menikmati ke mana proses ini membawa saya.

Setelah berulang kali memulai dan melepaskan, saya tidak lagi mengukur keberhasilan hidup melulu dari berapa banyak daftar tugas yang berhasil dicentang. Ada hal-hal yang tak pernah rampung, tetapi darinya saya belajar mengenal batas, minat, dan cara untuk kembali bangkit. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.

Hidup bukanlah daftar tugas yang seluruh kotaknya wajib diberi tanda centang. Ada yang selesai, ada yang terhenti di tengah jalan, ada yang kita tinggalkan, dan ada yang kelak kita mulai lagi dengan cara yang berbeda. Semuanya adalah bagian dari dinamika perjalanan.

Jadi, jika ada sesuatu yang pernah kamu mulai tetapi tak pernah kamu selesaikan, jangan terburu-buru menghakiminya sebagai kegagalan. Bisa jadi peran hal itu di hidupmu memang sudah selesai, atau ia hanya sedang beristirahat, seperti halnya sebuah tulisan lama di dalam laci yang menunggu waktu yang tepat untuk dibuka kembali.

Kalaupun suatu hari kamu memilih untuk kembali, kamu tidak sedang memulai dari nol. Kamu hadir bersama seluruh pengalaman yang telah kamu kumpulkan, termasuk pengalaman tentang bagaimana rasanya berhenti.

Sesuatu tidak harus bertahan selamanya untuk bisa menjadi berarti.

Seduh cangkirmu, lalu biarkan prosesmu menemukan bentuknya sendiri.

Similar Posts