Matcha, Minuman Hijau yang Kini Disukai Anak-Anak
Saya kira saya sudah cukup kekinian karena masih paham apa itu matcha. Ternyata saya keliru. Belakangan saya baru menyadari bahwa keponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah menjadi penikmat minuman ini. Anak SD, dan pesenannya adalah matcha latte.
Saya yang di usianya dulu paling jauh hanya mengenal teh celup celup-celup dan susu cokelat kemasan, mendadak merasa datang dari era yang jauh berbeda. Dulu, kalau ditawari minuman berwarna hijau, kemungkinan besar saya akan bertanya ragu, “Ini rasa apa?” Sekarang, anak-anak sudah bisa menjawab dengan sangat yakin: “Matcha.” Dan tentu saja, bukan rasa pandan.
Dunia memang sudah berubah banyak.
Matcha yang Ada di Mana-Mana
Entah sejak kapan, matcha bertransformasi dari sekadar teh tradisional Jepang menjadi selebritas di dunia kuliner. Sekarang kita bisa menemukan matcha latte, matcha cookies, matcha cake, matcha ice cream, matcha croissant, hingga matcha pudding. Kalau esok lusa ada yang menjual nasi goreng matcha, mungkin kita hanya akan menghela napas sebentar sebelum ditanya, “Level pedasnya berapa, Kak?”
Saya sendiri sebenarnya tidak punya masalah dengan matcha. Saya suka. Kopi dan teh sudah sejak lama menjadi kawan setia harian saya, dan matcha sesekali menjadi pilihan menyenangkan saat ingin menikmati kafein dengan sensasi berbeda. Bagi saya, matcha terasa lebih teduh (gentle).
Jika kopi sering kali datang bagai kawan yang mengguncang bahu sambil berteriak, “Ayo bangun! Kita harus produktif!”, maka matcha lebih menyerupai teman yang duduk tenang di sebelah kita lalu berbisik, “Tenang, kita kerjakan pelan-pelan, ya.”
Tentu ini pengalaman personal, sebab tubuh setiap orang merespons kafein dengan cara berbeda. Jadi ketika matcha mendadak populer, saya sebenarnya ikut senang, sampai kemudian saya melihat anak-anak kecil ikut memesan dan meminumnya.
Ketika Anak-Anak Ikut Meminumnya
Di sinilah saya mulai mengamati. Kita sering memandang matcha sebagai minuman “super sehat” karena kaya akan senyawa tanaman seperti polifenol dan antioksidan. Namun, ada satu hal dasar yang sering kali luput dari perhatian: matcha tetaplah teh. Dan teh bukan sekadar bubuk hijau yang fotogenik untuk diunggah di media sosial.
Secara medis, teh dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme, terutama jika dikonsumsi berdekatan dengan waktu makan. Bukan berarti setelah minum segelas teh, zat besi dalam makanan kita langsung kabur meninggalkan tubuh membawa koper, tentu tidak se-ekstrem itu ya. Namun, zat besi sangat krusial untuk proses tumbuh kembang anak. Bagi anak-anak yang asupan zat besinya masih pas-pasan, kebiasaan minum teh di waktu makan tentu menjadi hal yang layak diperhatikan.
Jadi mungkin pertanyaan yang tepat bukan sekadar: “Anak boleh minum matcha atau tidak?”
Melainkan: “Seberapa sering, sebanyak apa, dan kapan waktu minumnya?” Memang terdengar seperti pertanyaan yang membosankan, tetapi biasanya pertanyaan yang agak kaku justru jauh lebih berguna.
Sisi Lain: Kandungan Kafein
Ini bagian yang sering tertutupi oleh citra matcha sebagai minuman kesehatan. Bagaimanapun juga, matcha mengandung kafein.
Bagi orang dewasa, kafein mungkin sudah menjadi bahan bakar harian. Bangun tidur, mengingat tagihan, minum kopi. Berangkat kerja, mengingat usia, minum kopi lagi atau beralih ke matcha sebagai alternatif. Namun untuk anak-anak, kafein bukanlah sesuatu yang mereka butuhkan untuk tumbuh.
Lagipula, anak-anak pada dasarnya sudah memiliki energi berlimpah tanpa perlu bantuan kafein. Bayangkan jika minuman berkafein ini diminum sore atau malam hari. Anaknya tidak bisa tidur, orang tuanya ikut begadang, lalu besok harinya semua orang bangun dengan wajah lelah seperti zombie. Dan dalangnya adalah segelas matcha latte—minuman yang awalnya terlihat begitu polos dan tak berdosa.
Antara Minuman Sehat dan Dessert
Hal lain yang menarik adalah cara kita menilai sesuatu yang berwarna hijau di era sekarang. Warna hijau seolah otomatis mendapatkan sertifikat kesehatan:
- Hijau = Sehat.
- Ada tulisan Organic = Lebih sehat.
- Ada kandungan Antioxidant = Sangat sehat.
- Ada racikan Matcha = Pasti sehat.
Padahal, ceritanya jadi sangat berbeda ketika matcha disajikan dalam bentuk matcha latte yang dipenuhi gula, sirup manis, krim kental, dan topping berlimpah. Jangan-jangan, selama ini kita bukan sedang minum teh herbal, melainkan sedang menikmati dessert cair yang kebetulan berwarna hijau.
Dan itu tidak salah sama sekali. Memakan dessert itu sah-sah saja. Saya tidak berniat menjadi “polisi makanan” bagi siapa pun. Saya hanya merasa kita perlu jujur pada apa yang masuk ke dalam cangkir kita. Kalau itu dessert, nikmatilah sebagai pencuci mulut yang lezat tanpa perlu merasa bersalah hanya karena ia membawa racikan bubuk matcha.
Menikmati Tanpa Berlebihan
Lantas, apakah anak-anak sama sekali tidak boleh menyentuh matcha? Saya rasa tidak perlu sekaku itu. Persoalannya bukan sekadar memberi label hitam-putih antara “boleh” atau “dilarang”. Yang perlu kita perhatikan adalah usia anak, frekuensi, porsi, waktu penyajian, serta kadar gula dan kafeinnya.
Untuk konsumsi harian anak, minuman bebas kafein seperti air putih atau susu tetaplah pilihan terbaik. Jika matcha atau teh ingin disajikan sesekali, sebaiknya tidak dijadikan pendamping utama saat makan besar, terutama jika kecukupan zat besi anak sedang dipantau. Matcha boleh saja menjadi suguhan sesekali saat bersantai, tetapi bukan pengganti makanan utama, dan jelas bukan kawan mendampingi anak mengerjakan PR matematika pada jam sembilan malam.
Sebab kalau setelah itu anaknya tidak bisa tidur, jangan salahkan soal matematikanya.
Adapun bagi saya, tentu saya akan tetap menikmati matcha. Sesekali, dengan tenang. Tanpa menganggapnya sebagai obat ajaib, tanpa pula menuduhnya sebagai racun.
Sebab barangkali, begitulah cara paling sehat untuk menikmati apa pun dalam hidup: tidak berlebihan dalam mengaguminya, tetapi juga tidak berlebihan dalam mencurigainya.
Seduh saja, nikmati pelan-pelan, lalu tanyakan pada diri sendiri: “Sebenarnya apa yang sedang saya minum?” Karena kadang, bahkan dari segelas matcha, kita bisa belajar bahwa sesuatu yang sedang tren tidak selalu harus ditelan bulat-bulat.
Seduh pelan-pelan. Biar rasanya sampai ke hati, sebelum kesimpulannya sampai ke kepala.