Dulu Saya Ingin Punya Banyak Buku
Ada beberapa kesenangan yang datang terlambat. Bukan karena kita baru menyukainya ketika dewasa, melainkan karena saat kecil dulu, kesempatan untuk memilikinya memang belum ada.
Saya adalah salah satu orang yang mengalaminya.
Kegemaran membaca sudah tumbuh sejak kecil, meski saat itu bahan bacaan anak-anak sangat terbatas di desa tempat saya tinggal. Jika ingin mencari sesuatu yang tidak tersedia di sekitar rumah, kami harus pergi ke kota, yang pilihan toko bukunya pun belum tentu banyak.
Alhasil, saya melahap apa saja yang ada.
Saya masih ingat betapa bahagianya saat bisa meminjam majalah milik Om (adik Bapak saya), mungkin Bobo, mungkin Ananda, ah ingatan saya sudah agak kabur. Namun dari lembaran-lembaran kumal itulah, kecintaan pada dunia kata bermula.
Kala itu, hiburan memang tak melimpah seperti sekarang. Tanpa gawai, YouTube, atau layanan streaming, kami hanya mengandalkan acara seperti Si Unyil atau kartun Minggu pagi di TVRI. Itu pun tak jarang absen tayang karena tergeser siaran tinju atau acara dewasa lainnya.
Jika televisi tak menyajikan apa-apa, kami pergi bermain: menyusuri sungai, bermain petak umpet, memanjat pohon, atau berlarian ke sana kemari hingga lupa waktu.
Lalu, kembali membaca.
Di tengah terbatasnya pilihan hiburan, membaca terasa seperti pintu ajaib menuju tempat yang tak bertepi. Cukup dengan menggenggam sebuah majalah atau buku bekas, imajinasi anak kecil ini bisa berkelana ke mana saja.
Sayangnya, koleksi di rumah hampir semuanya adalah buku pelajaran sekolah. Jika ingin menikmati kisah lain, perpustakaan sekolah menjadi satu-satunya tumpuan. Membeli buku sendiri? Jelas sebuah kemewahan yang sulit terjangkau dari sebuah desa.
Pengalaman membeli buku dengan uang sendiri baru benar-benar terwujud ketika saya masuk bangku kuliah.
Dari uang saku yang disisihkan sedikit demi sedikit, saya akhirnya memegang La Tahzan, sebuah buku self-help Islami yang sangat populer kala itu. Jika dibaca ulang hari ini, mungkin sudut pandang saya terhadap isinya sudah berbeda. Namun waktu itu, nilainya luar biasa.
Yang paling berkesan bukan sekadar deretan kalimat di dalamnya, melainkan sensasi ketika berhasil membayarnya dengan hasil jerih payah sendiri. Momen itu melahirkan janji kecil di dalam hati: “Nanti, kalau sudah punya penghasilan sendiri, saya ingin membeli buku sebanyak yang saya mau.”
Janji sederhana itu rupanya pelan-pelan terwujud.
Prosesnya tentu tidak instan. Begitu bekerja, saya mulai menyisihkan uang untuk berburu bacaan, kadang berburu edisi baru (harga PO biasanya relatif lebih hemat), menantikan diskon besar-besaran, atau berburu buku bekas yang harganya lebih ramah di kantong.
Kehadiran marketplace di masa sekarang kian mempermudah segalanya. Saya tak perlu lagi pergi ke kota atau berharap pada keberuntungan stok toko buku fisik. Cukup mengetik judul, membandingkan harga, dan menunggu kurir datang membawa paket.
Bila direfleksikan kembali, perjalanan ini terasa cukup jauh: dari anak kecil yang dulu mengeja majalah pinjaman, hingga kini bebas memilih apa saja yang ingin dibaca.
Meski begitu, hadir pula dilema baru: harga buku cetak saat ini tidak bisa dikatakan murah.
Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, memboyong satu judul baru kerap membuat saya berpikir dua kali. Beli buku, atau lima kilogram beras? (emak-emak sekali ya LOL).
Format digital maupun edisi preloved memang menawarkan alternatif yang lebih hemat, dan saya cukup sering mempertimbangkannya. Namun, fisik buku cetak selalu memiliki daya pikat yang sulit digantikan, ada aroma khas saat membuka halaman pertama, kepuasan memberi tanda pada kalimat favorit, menyisipkan pembatas di tengahnya, hingga melihatnya bertengger manis di rak setelah tamat.
Mungkin ini sekadar kebiasaan, atau bisa jadi sedikit nostalgia.
Di sisi lain, saya juga masih sering mengoleksi bacaan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak terlalu krusial. Dulu, saya cukup banyak melahap genre self-help. Ada yang menganggap genre ini terlalu dangkal atau klise, dan itu sah-sah saja. Saya tak berniat memperdebatkan apakah sebuah tulisan sanggup mengubah hidup seseorang atau tidak. Saya hanya tahu, ada masa-masa sulit dalam hidup saya yang terasa lebih ringan karena ditemani oleh tulisan-tulisan sederhana tersebut.
Sebab, tidak semua buku hadir untuk membuat kita seketika menjadi pintar. Kadang, ia hadir hanya untuk menjadi teman.
Kini, selera bacaan saya bertransformasi menjadi lebih beragam, mulai dari novel, puisi, filsafat, sejarah, hingga esai. Jenis-jenis bacaan yang tak pernah terbayangkan akan saya sentuh ketika masih kecil dulu.
Di sudut ruangan, tumpukan buku yang belum selesai dibaca kerap menyapa. Ada yang baru dibaca beberapa lembar, ada yang sudah lama berdebu, ada pula yang tak tahu kapan akan dilanjutkan. Dulu mungkin ini terasa mengganggu, tapi sekarang saya tidak terlalu memikirkannya.
Sebab, hal paling menyenangkan bukanlah memiliki rak penuh dengan buku yang semuanya lulus dibaca, melainkan fakta bahwa sekarang saya memiliki kebebasan untuk memilih.
Saya bebas berburu judul yang diinginkan, membaca saat ada waktu luang, berhenti jika merasa tidak cocok, atau kembali melanjutkannya saat momen terasa tepat.
Dan setiap kali paket buku tiba di depan pintu rumah, ada bagian kecil dalam diri saya yang mendadak kembali menjadi anak-anak. Anak yang dulu meminjam majalah milik Om-nya, anak yang harus menunggu jam buka perpustakaan sekolah, serta anak yang tak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, buku-buku impiannya bisa diantarkan langsung ke genggamannya.
Mungkin beberapa kesenangan memang sengaja datang terlambat. Bukan karena kita terlambat menyukainya, melainkan karena baru sekarang kita diberi ruang dan kesempatan untuk benar-benar menikmatinya.
Dan itu tidak apa-apa.