Close-up-tangan-yang-membuat-vas-keramik

Menjadi Pemula Lagi di Usia Dewasa

Semakin dewasa, rasanya semakin tidak nyaman menjadi seseorang yang “tidak tahu”.

Sewaktu kecil, tidak bisa melakukan sesuatu adalah hal yang sangat wajar. Kita tidak bisa membaca, lalu belajar membaca. Kita tidak bisa naik sepeda, jatuh, menangis sebentar, lalu mencobanya lagi. Kita tidak tahu sesuatu, ya tinggal bertanya. Tidak ada yang aneh dengan status sebagai seorang pemula.

Namun entah sejak kapan, bertambahnya usia seolah menuntut kita untuk sudah tahu banyak hal. Kita merasa seharusnya sudah bisa, sudah mengerti, dan sudah mengantongi jawaban. Mungkin karena itulah, ketika suatu hari kita tertarik mempelajari hal yang benar-benar baru, ada sedikit rasa canggung yang terselip: bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa?

Membangun Rumah Kecil di Internet

Beberapa waktu lalu, saya memberanikan diri membeli paket hosting lagi. Iya, lagi.

Sebenarnya saya pernah punya blog menggunakan Blogspot di masa ketika menulis di internet adalah hal yang jamak dilakukan. Saya juga beberapa kali pernah membeli paket hosting karena tergoda promo murah dan klaim bahwa pemula pun bisa membuat website sendiri. Dan klaim itu memang benar.

Kali ini saya mencoba lagi: membeli hosting, mengatur domain, memasang WordPress, memilih tema, menginstal beberapa plugin, hingga berkenalan dengan istilah teknis SEO yang sebelumnya terdengar seperti bahasa alien. Sampai akhirnya, setelah cukup banyak mencoba dan beberapa kali bertanya, sebuah website sederhana berhasil berdiri.

Lalu saya menulis, dan menekan tombol Publish. Sederhana sekali, tetapi rasanya seperti sebuah pencapaian kecil. Bukan karena saya baru saja menuntaskan sesuatu yang luar biasa, melainkan karena kali ini saya benar-benar sampai di titik yang selama ini sering terlewatkan: memberanikan diri untuk mulai.

Memulai Lagi dengan Cara yang Berbeda

Sebenarnya, saya tidak benar-benar mulai dari titik nol. Saya pernah cukup rajin mempublikasikan tulisan di Medium sebelum akhirnya perlahan vakum. Tulisan-tulisan lama itu masih ada di sana. Jadi saat memutuskan membangun Seduh, saya sebenarnya bukan sedang belajar menulis dari awal; saya hanya sedang memulai kembali dengan cara yang berbeda.

Dan mungkin itulah hal paling menarik dari menjadi pemula di usia dewasa: kita hampir tidak pernah benar-benar kembali ke titik nol.

Kita selalu membawa serta semua pengalaman yang pernah kita lewati, termasuk jejak proyek-proyek yang sempat terhenti di tengah jalan.

Langkah ini mungkin terdengar agak aneh di masa sekarang. Di era ketika konten digital didominasi oleh video pendek yang memperebutkan perhatian dalam hitungan detik, saya malah sibuk membangun blog, yup sesuatu yang terdengar seperti proyek dari era yang telah lewat. Menulis artikel panjang di internet memang tidak seksi. Tidak ada jaminan tulisan akan dibaca, tidak ada angka penonton yang melonjak tiap jam, dan tidak ada kepastian riuk tepuk tangan.

Namun justru itulah yang membuat saya tertarik. Saya tidak sedang mengejar tren. Saya hanya ingin memiliki rumah sendiri untuk menuangkan pikiran, sebuah ruang yang bisa saya atur sendiri tanpa perlu khawatir apakah algoritmanya disukai platform atau tidak. Setelah bertahun-tahun mengonsumsi konten-konten singkat, saya hanya ingin memiliki tempat yang mengizinkan saya untuk berlama-lama.

Tantangan Terbesar: Konsistensi untuk Kembali

Lucunya, tutorial yang dulu saya tonton ternyata tidak bohong. Membuat website-nya memang mudah: klik ini, pasang itu, pilih tema, lalu terbitkan. Yang jauh lebih sulit dan tidak pernah ada tutorialnya adalah konsistensi.

Membuat website-nya itu mudah, yang tidak mudah adalah terus kembali ke halaman editor setelah semangat awal perlahan meredup. Menulis satu artikel mungkin terasa menyenangkan, tetapi menulis artikel kedua, ketiga, dan seterusnya saat belum ada yang membaca jauh lebih menantang.

Ini bukan hanya tentang blog. Banyak hal dalam hidup bekerja dengan cara yang sama. Memulai sesuatu sering kali terasa menggebu-gebu karena ada dorongan rasa penasaran. Namun ujian sesungguhnya adalah keberanian untuk tetap hadir ketika hal tersebut tak lagi terasa baru.

Pada akhirnya, yang menentukan daya tahan bukanlah kemampuan teknis, melainkan kemauan untuk terus kembali: kembali membuka halaman editor, kembali merangkai kata, dan kembali mencoba, bahkan ketika tidak ada yang sedang menunggu tulisan kita.

Terlalu Terbiasa Ingin Langsung Bisa

Salah satu alasan mengapa menjadi pemula terasa begitu tidak nyaman di usia dewasa adalah karena kita terlalu sering disuguhi hasil akhir orang lain.

Kita melihat website orang lain yang sudah rapi, lalu lupa bahwa pemiliknya pun pernah tidak tahu cara memasang menu. Kita membaca tulisan yang ramai pembaca, lalu lupa ada artikel pertama yang mungkin hanya dibaca oleh beberapa pasang mata. Kita ingin proses belajar kita langsung menyamai pencapaian orang lain yang sudah bertahun-tahun berproses. Kita ingin langsung bisa.

Padahal, belajar tidak bekerja dengan cara seinstan itu. Ada masa di mana kita memang harus canggung, melakukan kesalahan, dan mencari-cari jalan. Menjadi pemula berarti kita harus berlapang dada untuk bersedia terlihat tidak tahu.

Tidak Semua Hal Harus Menjadi Sesuatu

Kita hidup di zaman ketika hampir segala hal dinilai dari produktivitas dan hasilnya: belajar harus berguna, hobi sebaiknya bisa di-monetisasi, dan waktu luang harus menghasilkan. Blog pun terasa lebih masuk akal jika pada akhirnya mendatangkan materi.

Namun bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau saya hanya ingin menulis? Bagaimana kalau blog ini tidak pernah menjadi bisnis dan tidak dibaca banyak orang?

Mungkin tidak apa-apa. Tidak semua hal yang kita pelajari harus menjelma menjadi sesuatu yang besar. Kita boleh belajar murni karena penasaran, mencoba karena tertarik, dan memiliki hobi yang tidak menghasilkan uang. Di usia dewasa, keberanian untuk melakukan sesuatu hanya atas dasar rasa ingin tahu adalah sebuah kemewahan kecil yang sangat layak kita pertahankan.

Menjadi pemula berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk tidak sempurna. Kita tidak perlu menjadi yang terbaik atau membandingkan diri dengan mereka yang sudah jauh melangkah. Kita hanya perlu merayakan kemajuan-kemajuan kecil: satu istilah teknis yang akhirnya dipahami, satu kesalahan yang tidak diulangi, atau satu tulisan yang berani diterbitkan.

Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak dan bergumam hangat: “Oh, ternyata saya bisa sedikit lebih baik hari ini.”

Belajar Adalah Cara untuk Tetap Hidup

Ada usia di mana kita mulai merasa bahwa semua hal seharusnya sudah selesai dipelajari. Kita sudah melewati bangku sekolah, kuliah, dan dunia kerja. Seolah-olah setelah memasuki fase tertentu, kita tak boleh lagi menjadi orang yang bertanya, “Ini bagaimana caranya?”

Padahal hidup terus berubah: teknologi bertransformasi, minat bergeser, dan diri kita sendiri pun bertumbuh. Maka sungguh tidak realistis jika kita berharap menjadi orang yang sama dengan pengetahuan yang kaku sepanjang hayat.

Menjadi pemula lagi bukan berarti mundur. Kita membawa pengalaman masa lalu, kesabaran yang lebih matang, dan pemahaman bahwa segala sesuatu memang butuh waktu. Bahkan kegagalan di masa lalu pun bisa menjadi bekal yang berharga.

Saya tidak tahu apakah Seduh akan bertahan lama, atau berapa banyak tulisan yang sanggup saya lahirkan. Namun untuk saat ini, saya bersyukur pernah memberanikan diri menjadi pemula lagi, belajar merawat rumah kecil ini dari nol.

Tidak semua hal harus menjadi keahlian, tidak semua hal harus masuk ke dalam rencana lima tahun. Kadang, cukup dengan rasa ingin tahu dan keberanian untuk berkata: “Saya belum bisa, tapi saya ingin belajar.”

Barangkali, menjadi pemula lagi adalah cara terbaik untuk menjaga jiwa kita agar tetap terbuka pada kehidupan. Sebab selama kita masih menyimpan rasa penasaran, selama masih ada hal yang ingin dipelajari, kita belum selesai menjadi manusia.

Jika hari ini kamu sedang mempelajari sesuatu dan merasa lambat, jangan berkecil hati. Kamu tidak gagal, kamu hanya sedang berada di bagian perjalanan yang memang membutuhkan waktu.

Tidak apa-apa kalau belum bisa. Tidak apa-apa kalau masih salah. Tidak apa-apa untuk memulai lagi. Kita tidak harus langsung menjadi ahli; menjadi pemula pun sudah lebih dari cukup.

Pelan-pelan saja.

Similar Posts