Belajar Memberi Jeda Sebelum Menjawab
Marah itu mudah. Kita hanya perlu membiarkan suara sedikit lebih tinggi dari biasanya, membalas pesan dengan kalimat yang lebih tajam, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya ingin kita tarik kembali beberapa menit kemudian. Amarah sering kali datang tanpa banyak meminta izin, terutama ketika ada sesuatu yang menyentuh bagian diri kita yang sedang tidak baik-baik saja.
Seseorang mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai. Sebuah komentar terasa menyudutkan. Perlakuan seseorang membuat kita merasa tidak dihargai. Dalam hitungan detik, tubuh seperti sudah tahu apa yang ingin dilakukan: membalas.
Barangkali karena itulah reaksi terasa jauh lebih mudah daripada diam. Kita merasa perlu menjelaskan diri, meluruskan keadaan, atau memastikan orang lain tahu bahwa kita tidak salah. Seolah-olah setiap kesalahpahaman harus segera diselesaikan dan setiap perkataan harus mendapatkan jawaban.
Padahal, tidak semua hal membutuhkan respons secepat itu.
Ada Jeda Kecil Sebelum Kita Bereaksi
Ada sebuah ruang kecil di antara apa yang terjadi kepada kita dan apa yang akhirnya kita lakukan terhadapnya. Ruang itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi di sanalah kita masih memiliki kesempatan untuk memilih.
Kita bisa langsung membalas pesan yang membuat kesal, atau membiarkan ponsel tergeletak sebentar sambil menarik napas. Kita bisa mengikuti emosi yang sedang naik, atau memberi kesempatan kepada perasaan itu untuk mereda sebelum memutuskan apa yang sebenarnya ingin kita katakan.
Bukan berarti kita tidak marah. Bukan pula berarti kita harus selalu menjadi orang yang tenang dan tidak pernah bereaksi. Kita tetap bisa merasa terluka, kecewa, bahkan sangat kesal terhadap sesuatu yang dilakukan orang lain. Hanya saja, kita belajar untuk tidak menyerahkan seluruh kendali kepada perasaan yang sedang singgah.
Mungkin semakin dewasa seseorang, semakin ia menyadari bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan dengan kata-kata.
Ada percakapan yang memang perlu diselesaikan, ada batas yang perlu ditegaskan, dan ada perlakuan yang tidak seharusnya dibiarkan begitu saja. Namun, di antara semua itu, ada pula hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita bawa pulang dan pikirkan sepanjang malam.
Tidak Semua Hal Harus Mendapatkan Jawaban
Tidak semua komentar perlu dijawab, sebagaimana tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan. Kita juga tidak selalu harus membuat semua orang memahami sudut pandang kita, apalagi menghabiskan tenaga untuk meyakinkan seseorang yang sejak awal memang tidak berniat memahami.
Mungkin dulu kita merasa harus selalu membalas setiap perkataan. Kita ingin menjelaskan diri sampai orang lain mengerti, meluruskan sesuatu sampai tidak ada lagi yang bisa diperdebatkan, atau memastikan percakapan berakhir dengan kita merasa sudah membuktikan bahwa kita benar.
Seolah-olah kalau kita berhenti menjelaskan, kita sedang kalah.
Namun perlahan kita mungkin mulai memahami bahwa ketenangan kadang jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah perdebatan.
Ada sesuatu yang berubah ketika kita mulai memberi jeda sebelum bereaksi. Emosi masih ada, tetapi ia tidak lagi mengemudikan kita sepenuhnya.
Kita masih bisa kecewa tanpa harus menyakiti, masih bisa marah tanpa harus meledak, dan masih bisa merasa tidak dihargai tanpa kemudian merendahkan orang lain.
Barangkali inilah salah satu bentuk kedewasaan yang jarang terlihat.
Hal-Hal Kecil yang Tidak Dilihat Orang Lain
Tidak ada tepuk tangan untuk seseorang yang memilih menahan satu kalimat kasar. Tidak ada yang tahu ketika seseorang membaca sebuah pesan, merasa sangat tersulut, lalu memilih meletakkan ponselnya dan kembali membukanya beberapa jam kemudian.
Tidak ada yang melihat ketika kita memilih tidur dalam keadaan kesal daripada memulai percakapan panjang yang kemungkinan besar hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Namun mungkin, justru hal-hal kecil semacam itulah yang perlahan membentuk diri kita.
Kita mulai memahami bahwa merasakan sesuatu tidak selalu berarti harus segera bertindak atasnya. Perasaan boleh hadir, termasuk marah dan kecewa, tetapi kehadiran perasaan tidak otomatis membuat kita harus mengikuti semua dorongannya.
Sebab pada akhirnya, kita tidak selalu bisa memilih apa yang orang lain lakukan kepada kita.
Kita tidak bisa mengatur bagaimana seseorang berbicara, bagaimana mereka memperlakukan kita, atau apakah mereka akan memahami maksud kita dengan benar. Yang masih berada dalam ruang kendali kita adalah apa yang kita lakukan setelah semua itu terjadi.
Mungkin Kita Hanya Perlu Berhenti Sebentar
Mungkin hari ini ada seseorang yang membuatmu kesal. Ada perkataan yang masih terngiang, sebuah pesan yang ingin segera dibalas, atau perlakuan yang membuatmu ingin memberikan jawaban yang setimpal.
Kalau begitu, mungkin tidak ada salahnya untuk berhenti sebentar.
Seduh kopi. Tarik napas. Biarkan pikiran sedikit lebih dingin sebelum menentukan apa yang ingin dilakukan.
Barangkali setelah beberapa saat kamu tetap merasa perlu mengatakan sesuatu. Tidak masalah. Katakan, tetapi kali ini bukan karena amarah yang sedang memegang kendali, melainkan karena kamu sudah memilihnya dengan sadar.
Sebab mungkin kekuatan tidak selalu terlihat dari seberapa keras kita mampu membalas sesuatu yang menyakiti kita. Kadang kekuatan justru hadir dalam kemampuan untuk memberi jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang akhirnya kita lakukan.
Ada hal-hal yang memang perlu kita hadapi.
Tetapi ada pula hal-hal yang cukup kita biarkan berlalu, bukan karena kita merasa lebih sedikit, melainkan karena kita mulai belajar bahwa tidak semua hal layak mengambil ketenangan yang sudah susah payah kita bangun.