wanita-membaca-buku-di-luar-ruangan-di-atas-selimut-santai-di-atas-rumput

Membaca di Usia Dewasa: Ketika Kita Tidak Lagi Membaca untuk Menjadi Pintar

Dulu saya mengira orang yang banyak membaca pasti lebih pintar.

Mungkin karena sejak sekolah kita terbiasa menghubungkan buku dengan pengetahuan: membaca berarti belajar, belajar berarti tahu lebih banyak, dan tahu lebih banyak berarti menjadi lebih pintar. Logikanya sederhana.

Tapi semakin bertambahnya usia, saya mulai tidak terlalu yakin.

Saya masih suka membaca, bahkan mungkin sekarang justru lebih menikmati buku dibandingkan ketika masih sekolah. Hanya saja, alasan saya membaca sudah berubah.

Saya tidak lagi merasa setiap buku yang dibuka harus memberikan pengetahuan baru atau mengubah saya menjadi seseorang yang berbeda setelah halaman terakhir usai dibaca.

Kadang saya hanya ingin mengetahui sebuah cerita. Kadang ingin memahami pikiran seseorang yang hidup jauh sebelum saya. Kadang menemukan satu gagasan yang membuat saya melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.

Dan ada kalanya saya hanya ingin duduk sambil membaca, tanpa merasa harus mendapatkan apa-apa darinya.

Membaca Bukan Perlombaan

Ada masa ketika jumlah buku yang selesai dibaca terasa sangat penting. Melihat orang lain membaca puluhan buku dalam setahun bisa membuat kita ikut menghitung: berapa buku yang sudah saya baca bulan ini? Berapa yang bisa saya selesaikan sampai akhir tahun?

Tidak ada yang salah dengan memiliki target membaca. Saya sendiri pernah merasakan kepuasan ketika sebuah buku akhirnya selesai, lalu menutup halaman terakhir, memasukkannya ke daftar buku yang tuntas, lalu merasa sedikit lebih produktif.

Tetapi membaca bisa kehilangan sebagian besar kenikmatannya kalau kita terlalu sibuk mengejar angka.

Satu buku yang benar-benar kita pikirkan selama berhari-hari mungkin jauh lebih berarti daripada beberapa buku yang selesai hanya demi menambah jumlah statistik. Nilai sebuah buku tidak selalu bisa dihitung dari seberapa cepat kita menyelesaikannya.

Ada buku yang selesai dibaca dalam beberapa hari, tetapi dilupakan seminggu kemudian. Ada pula buku tipis yang kita baca perlahan, dan entah bagaimana, satu gagasannya tetap tinggal di kepala bertahun-tahun setelahnya.

Jadi sekarang saya tidak terlalu ingin menjadikan membaca sebagai perlombaan. Kalau ada bulan ketika hanya satu buku yang selesai, ya sudah. Kalau sebuah buku membutuhkan waktu lebih lama karena ingin dibaca perlahan, juga tidak masalah.

Toh bukunya tidak akan ke mana-mana.

Buku yang Sama Bisa Terasa Berbeda

Salah satu hal paling menarik dari membaca ketika dewasa adalah kemungkinan menemukan makna yang berbeda dari buku yang sama.

Sebuah buku yang dibaca ketika berusia dua puluh tahun mungkin terasa biasa saja. Beberapa belas tahun kemudian, ketika kehidupan sudah membawa kita melewati pekerjaan, kehilangan, hubungan, tanggung jawab, dan berbagai dinamika, maka buku yang sama bisa terasa seperti buku yang sama sekali baru.

Padahal bukunya tidak berubah. Kita yang berubah.

Pengalaman membuat kita membawa lebih banyak hal ketika membaca. Kita tidak hanya membaca kalimat yang tertulis di halaman, tetapi juga membacanya melalui kacamata kehidupan yang sudah kita jalani.

Sebuah gagasan yang dulu terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami, setelah kita mengalami sendiri peristiwa yang berkaitan dengannya. Mungkin itu sebabnya ada buku-buku yang baru terasa dekat, ketika kita membacanya pada waktu yang tepat. Bukan karena sebelumnya kita terlalu bodoh untuk memahaminya, melainkan karena belum ada pengalaman dalam diri kita yang membuat gagasan tersebut terasa relevan.

Tidak Semua Buku Harus Selesai

Ini mungkin terdengar seperti pembenaran bagi orang yang suka membeli buku lalu menumpuknya. Saya sendiri tidak sepenuhnya terbebas dari kebiasaan tersebut. Ada buku yang sudah dibeli tetapi belum dibaca, ada yang baru beberapa halaman kemudian ditinggalkan, dan ada pula yang sebenarnya bagus tetapi entah mengapa tidak berhasil menahan perhatian saya.

Dulu saya mungkin merasa bersalah ketika meninggalkan sebuah buku di tengah jalan. Sekarang saya lebih bisa menerima bahwa tidak semua buku akan cocok dengan kita pada waktu tertentu.

Tentu ada perbedaan antara berhenti terlalu cepat dan menyadari bahwa sebuah buku memang tidak sedang kita butuhkan. Karena itu, saya biasanya tetap berusaha memberi kesempatan sebelum memutuskan berhenti.

Tetapi setelah merasa cukup, saya tidak lagi menganggap menutup buku yang belum selesai sebagai sebuah kegagalan.

Waktu kita terbatas. Minat kita berubah. Kehidupan juga terus bergerak. Buku bukan tugas sekolah; tidak ada guru yang akan memeriksa apakah kita sudah menyelesaikannya. Dan membaca seharusnya tidak pernah membuat kita merasa bersalah.

Jeda dari Layar Gawai

Ada satu alasan lain mengapa belakangan saya semakin menikmati membaca, terutama fiksi.

Ketika membaca sebuah novel, untuk beberapa saat kita seperti meninggalkan dunia kita sendiri dan masuk ke dunia yang diciptakan oleh penulisnya. Kita mengikuti tokohnya, membayangkan tempat-tempat yang mungkin belum pernah kita datangi, ikut memikirkan persoalan yang bukan milik kita, dan membiarkan cerita membawa kita ke mana saja.

Ada sesuatu yang menenangkan dari proses itu, terutama setelah seharian menatap layar dan berpindah dari satu informasi cepat ke informasi lainnya. Satu video selesai, kita menggulir lagi. Satu berita muncul, kita berpindah ke berita lain. Belum selesai mencerna sesuatu, sudah ada hal baru yang meminta perhatian.

Membaca terasa berbeda.

Kita tidak bisa menggulir cerita sampai selesai dalam beberapa detik. Kita perlu tinggal di dalamnya, membaca halaman demi halaman, membayangkan adegan, mengikuti percakapan para tokoh, dan membiarkan cerita berkembang di dalam kepala.

Untuk beberapa saat, kita tidak perlu mengejar apa-apa. Kita hanya perlu berada di satu tempat, bersama sebuah cerita.

Di zaman ketika perhatian kita terus diperebutkan, kemampuan untuk duduk diam dan membaca beberapa halaman tanpa merasa perlu berpindah layar adalah sesuatu yang layak dipertahankan.

Memahami, Bukan Sekadar Mengetahui

Semakin dewasa, saya juga semakin menikmati buku yang membuat saya berhenti dan berpikir. Bukan selalu buku yang memberikan informasi paling banyak, tetapi buku yang membuat sebuah pertanyaan tinggal lebih lama di kepala.

Dulu saya mungkin menganggap buku yang bagus adalah buku yang memberikan banyak jawaban. Sekarang saya justru menikmati buku yang membuat saya pulang membawa pertanyaan-pertanyaan baru.

Mungkin memang itu salah satu fungsi buku. Tidak semua buku harus memberikan solusi; beberapa hanya mengubah cara kita melihat sebuah pertanyaan.

Sebuah cerita tentang kehidupan seseorang bisa membuat kita memikirkan kehidupan sendiri. Buku filsafat bisa membuat kita mempertanyakan sesuatu yang selama ini kita anggap biasa. Memoar seseorang bisa membuat kita memahami pengalaman yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Pengetahuan tentu penting, tetapi pemahaman sering kali membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar mengetahui. Barangkali itu alasan mengapa saya semakin menikmati buku yang tidak selesai ketika halaman terakhir ditutup: ceritanya mungkin sudah berakhir, tetapi pemikirannya masih ikut pulang bersama kita.

Cukup Menemani

Tidak semua buku harus mengubah hidup kita. Ada buku yang kita baca untuk belajar, ada yang membuka perspektif baru, dan ada yang membuat kita berpikir selama berhari-hari. Tetapi ada juga buku yang hanya hadir untuk menemani kita melewati satu bagian kecil kehidupan.

Kita membacanya sambil minum kopi di pagi hari, membawanya dalam perjalanan, atau membuka beberapa halaman sebelum tidur. Mungkin setelah selesai kita tidak mendapatkan insight besar atau menemukan formula baru untuk memperbaiki hidup. Tetapi satu sore terasa lebih menyenangkan hanya karena buku itu ada di tangan kita.

Saya rasa itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk membaca. Tidak semua hal yang kita lakukan harus menghasilkan sesuatu yang bisa diukur. Kadang, pengalaman yang kita nikmati selama menjalaninya sudah memiliki nilainya sendiri.

Menemukan Diri Sendiri

Ada pengalaman tertentu yang sulit dijelaskan ketika membaca: menemukan sebuah kalimat yang terasa begitu dekat, seolah-olah seseorang baru saja merumuskan sesuatu yang selama ini ada di kepala kita tetapi belum pernah berhasil kita ungkapkan.

Pengalaman semacam itu membuat saya berpikir bahwa membaca bukan hanya cara untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia. Kadang membaca membantu kita memahami diri sendiri.

Ketika menemukan pengalaman orang lain yang ternyata mirip dengan kegelisahan kita, kita menyadari bahwa sesuatu yang selama ini terasa sangat personal ternyata pernah dirasakan oleh banyak orang. Sebaliknya, ketika membaca tentang kehidupan yang sangat berbeda, kita mendapat kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang bukan milik kita.

Kita tetap tinggal di kehidupan kita sendiri, tetapi melalui buku, kita bertamu ke kehidupan orang lain.

Saya tidak tahu berapa banyak buku yang akan saya baca tahun ini, dan saya tidak lagi menjadikannya sebagai patokan.

Mungkin ada bulan ketika saya membaca beberapa buku, ada bulan ketika hanya satu yang selesai, atau bahkan ada masa ketika tidak ada satu pun buku yang tamat. Tidak apa-apa. Kehidupan kadang memang tidak memberi kita cukup ruang dan waktu.

Saya hanya ingin terus membaca selama rasa penasaran itu masih ada.

Pada akhirnya, buku tidak harus selalu membuat kita menjadi orang yang berbeda. Kadang sebuah buku hanya menemani kita menjadi sedikit lebih mengerti tentang dunia, orang lain, dan sesekali… tentang diri sendiri.

Saya membaca karena selalu ada kemungkinan bahwa di antara halaman-halaman itu, saya akan menemukan sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya: sebuah gagasan, cerita baru, atau sekadar satu kalimat yang membuat saya berhenti sejenak.

Tutup bukumu sebentar, resapi kalimat terakhirnya, dan biarkan pemikiran itu mengendap dengan tenang.

Pelan-pelan.

Similar Posts