udut-tenang-di-kafe-Vietnam-dengan-buku-kursi-dan-jendela-terbuka-yang-menghadap-tanaman-hijau

Ternyata Kita Tidak Hanya Minum Kopi

Saya sebenarnya cukup jarang ngopi di luar.

Kalau sedang ingin menikmati kopi, saya lebih sering membuka marketplace, mencari bubuk atau biji kopi yang ingin dicoba, lalu menyeduhnya sendiri di rumah. Alat kopi yang saya punya juga hanya satu, yaitu French press yang cukup setia menemani. Kalau ingin menikmati kopi tanpa ampas, alat itulah yang biasanya saya keluarkan.

Setelah itu semuanya sederhana. Saya membuat kopi, menyalakan musik, lalu membaca buku atau melanjutkan sesuatu yang sedang saya kerjakan. Tidak ada suasana kedai kopi, tidak ada meja yang perlu dipilih, dan tidak ada alasan untuk terburu-buru menghabiskan minuman.

Mungkin justru karena kebiasaan ngopi saya cukup sederhana, saya pernah berpikir bahwa kopi ya kopi. Kalau sama-sama kopi, yang membedakan paling rasanya: enak atau tidak, pahit atau tidak, panas atau dingin. Kalau harganya berbeda, tinggal dibandingkan saja. Yang satu lebih mahal, yang lain lebih murah.

Belakangan saya mulai menyadari bahwa ternyata urusannya tidak sesederhana itu.

Orang menikmati kopi dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang memang mengejar rasa seduhannya, ada yang menikmati tempatnya, ada yang menyukai suasananya, dan ada pula yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kopinya karena yang penting bisa duduk dan berbincang dengan orang yang menemaninya.

Bahkan mungkin ada yang ikut ngopi meskipun sebenarnya tidak terlalu suka kopi.

Semakin saya perhatikan, semakin terasa bahwa yang kita nikmati dari secangkir kopi ternyata tidak selalu kopinya saja.

Segelas kopi, pengalaman yang berbeda

Saya pernah ngopi di sebuah warung yang menurut saya cukup menarik justru karena kesederhanaannya. Tempatnya bukan kedai kopi dengan interior yang dibuat khusus untuk menarik perhatian, melainkan warung dengan suasana yang sederhana dan santai.

Saya memesan es Americano. Harganya menurut saya masih sangat terjangkau, apalagi kopi yang digunakan digiling ketika dipesan. Dengan harga seperti itu, saya justru merasa mendapatkan sesuatu yang cukup menyenangkan: kopi yang dibuat fresh dan kesempatan untuk duduk menikmati suasana warung tanpa harus membayar terlalu mahal.

Tetapi orang yang bersama saya justru berkomentar bahwa harga kopinya cukup mahal.

Saya sempat berpikir, mahal dari mana?

Dalam kepala saya, pembandingnya tentu kedai kopi lain yang menggunakan biji kopi dan menyeduhnya langsung ketika dipesan. Kalau dibandingkan dengan tempat seperti itu, harga segelas es Americano tadi rasanya masih sangat masuk akal.

Tetapi kemudian saya menyadari bahwa mungkin pembanding yang digunakan memang berbeda.

Kalau segelas es Americano tersebut dibandingkan dengan kopi sachetan yang bisa didapat di warung lain dengan harga beberapa ribu rupiah, tentu harganya akan terasa mahal.

Di situ saya mulai berpikir: jangan-jangan kami sebenarnya tidak sedang membandingkan hal yang sama.

Sama-sama kopi, memang.

Tetapi pengalaman di baliknya berbeda.

Apa yang sebenarnya kita bayar?

Ketika membeli segelas kopi, secara sederhana kita memang membayar minuman yang ada di dalam gelas. Tetapi pengalaman yang kita dapatkan bisa jauh lebih luas dari itu.

Ada bahan yang digunakan, proses membuatnya, cara penyajiannya, tempat kita duduk, suasana di sekitar kita, waktu yang kita habiskan, dan tentu saja orang yang mungkin sedang bersama kita.

Bagi saya, misalnya, menikmati kopi di rumah punya pengalaman yang berbeda dengan minum kopi di luar. Saya bisa memilih sendiri kopi yang ingin dicoba, menyeduhnya dengan French press, lalu duduk sambil mendengarkan musik atau menyelesaikan beberapa halaman buku.

Tidak ada yang istimewa dari luar.

Tetapi justru di situlah kenikmatannya.

Saya mungkin tidak sedang mencari tempat yang bagus. Saya hanya ingin menikmati kopi dengan cara yang saya sukai.

Orang lain tentu bisa memiliki kebutuhan yang berbeda. Bagi seseorang, menikmati kopi mungkin justru berarti keluar rumah, mencari tempat yang nyaman, bertemu teman, atau sekadar duduk sendirian di antara keramaian.

Dan menurut saya, tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut.

Kita hanya sedang membayar untuk pengalaman yang berbeda.

Tidak semua kopi bisa dibandingkan begitu saja

Mungkin ini bukan hanya soal kopi.

Kita sering melihat dua hal yang tampak serupa dari luar, lalu langsung membandingkan harga atau nilainya tanpa benar-benar melihat pengalaman yang menyertainya.

Dua restoran sama-sama menjual makanan, tetapi pengalaman makan di dalamnya bisa sangat berbeda.

Dua buku sama-sama terdiri dari kertas dan tulisan, tetapi alasan kita membelinya mungkin sama sekali berbeda. Satu buku mungkin dibeli untuk belajar, sementara buku lainnya dibeli karena ceritanya mengingatkan kita pada sesuatu.

Dua tempat wisata sama-sama bisa didatangi untuk berlibur, tetapi seseorang mungkin mencari ketenangan sementara orang lain justru mencari keramaian.

Begitu pula dengan kopi.

Segelas kopi sachetan dan segelas es Americano memang sama-sama bisa disebut kopi. Tetapi kalau kita hanya melihat harganya tanpa melihat apa yang sebenarnya dicari oleh orang yang meminumnya, perbandingannya menjadi tidak sepenuhnya apple to apple.

Bagi seseorang, kopi murah sudah cukup karena yang dicari memang minuman untuk menemani hari. Bagi orang lain, proses penyeduhan, jenis biji, rasa, atau suasana tempat mungkin menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dinikmati.

Tidak ada yang otomatis lebih benar.

Kadang kita datang bukan untuk kopinya

Semakin dipikirkan, saya justru merasa bahwa dalam banyak kesempatan, kopi hanyalah alasan.

Kita mengatakan ingin ngopi, padahal yang sebenarnya kita butuhkan mungkin waktu untuk berbicara dengan seseorang. Kita pergi ke sebuah kedai bukan semata-mata karena ingin minum kopi, tetapi karena tempatnya nyaman untuk mengobrol atau membaca.

Ada pula orang yang datang ke tempat tertentu karena memiliki kenangan di sana. Bisa jadi kopinya biasa saja, tetapi tempat itu pernah menjadi saksi percakapan penting dalam hidupnya.

Bahkan ada orang yang tidak minum kopi sama sekali tetapi tetap bersedia ikut ketika diajak ngopi.

Berarti yang dicari memang bukan kopinya.

Mungkin mereka hanya membutuhkan alasan untuk bertemu.

Dan kalau begitu, bagaimana kita menentukan harga sebuah kopi? Apakah cukup dengan melihat angka yang tertulis di menu?

Rasanya tidak juga.

Pengalaman membuat sesuatu menjadi bernilai

Mungkin nilai sebuah benda memang tidak selalu melekat sepenuhnya pada benda itu sendiri. Nilai bisa muncul dari pengalaman kita ketika menggunakannya.

Segelas kopi yang diminum terburu-buru di tengah pekerjaan mungkin terasa biasa saja. Tetapi kopi yang sama bisa terasa berbeda ketika diminum pada sore hari sambil berbicara dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemui.

Sebuah buku yang kita beli dengan harga murah bisa menjadi sangat berarti karena kita membacanya pada masa tertentu dalam hidup. Sebuah tempat makan sederhana mungkin kita ingat bertahun-tahun kemudian karena pernah menjadi tempat berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi.

Mungkin karena itu saya sekarang agak berhati-hati ketika melihat sesuatu hanya dari harganya.

Murah belum tentu lebih bernilai.

Mahal juga tidak otomatis berarti lebih baik.

Pertanyaannya mungkin bukan cuma “berapa harganya?”, tetapi juga “apa yang sebenarnya kita dapatkan dari pengalaman itu?”

Dan jawabannya tentu berbeda untuk setiap orang.

Kita membawa ukuran masing-masing

Kalau dipikir-pikir, cerita tentang kopi tadi sebenarnya bukan tentang siapa yang benar soal harga.

Saya menganggap kopi itu murah karena saya membandingkannya dengan pengalaman minum kopi di tempat lain. Orang yang bersama saya mungkin menganggapnya mahal karena ia memiliki ukuran yang berbeda.

Bukankah kita juga melakukan hal yang sama dalam banyak hal?

Kita membawa ukuran sendiri ketika menilai pekerjaan, rumah, pendidikan, makanan, perjalanan, bahkan cara orang lain menjalani hidup.

Sesuatu yang menurut kita masuk akal bisa terlihat aneh bagi orang lain. Pilihan yang menurut kita terlalu mahal mungkin justru dianggap layak oleh orang lain karena ada sesuatu yang mereka hargai di dalamnya.

Sebaliknya, sesuatu yang menurut kita sangat penting mungkin sama sekali tidak menarik bagi orang lain.

Mungkin kita tidak selalu harus sepakat.

Barangkali yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa kita sedang menggunakan penggaris yang berbeda.

Pada akhirnya, kopi tetaplah kopi

Saya tetap punya selera. Saya tahu kopi seperti apa yang saya sukai dan bagaimana saya biasanya ingin menikmatinya. Saya masih lebih sering membeli kopi untuk diseduh sendiri di rumah daripada pergi ke kedai.

Tetapi sekarang saya sedikit lebih memahami bahwa pengalaman orang lain tidak harus sama dengan pengalaman saya.

Bagi saya, membeli kopi di marketplace, menyeduhnya dengan French press, menyalakan musik, lalu membaca buku adalah salah satu bentuk kenikmatan sederhana. Bagi orang lain, pengalaman yang sama mungkin terasa biasa saja. Mereka mungkin lebih menikmati duduk di warung, berbincang dengan teman, atau menikmati kopi yang dibuat orang lain.

Dan bisa jadi ada orang lain lagi yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kopinya sama sekali. Ia hanya ingin bertemu seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya.

Tidak ada yang harus memenangkan perdebatan tentang kopi mana yang lebih baik atau harga mana yang lebih masuk akal.

Karena mungkin sejak awal kami memang tidak sedang membeli hal yang sama.

Saya membeli kopi, tetapi juga membeli sedikit waktu untuk diri sendiri.

Orang lain mungkin membeli kopi sekaligus suasana.

Seseorang yang lain mungkin membeli waktu bersama orang yang disayanginya.

Jadi sekarang saya merasa bahwa ketika kita menilai sesuatu hanya dari harga atau bentuk luarnya, kita mungkin sedang melewatkan bagian yang paling penting: pengalaman yang sebenarnya sedang dibeli oleh seseorang.

Mungkin itu sebabnya sesuatu yang menurut kita mahal bisa terasa sangat layak bagi orang lain. Dan sesuatu yang menurut kita tidak masuk akal bisa saja memiliki nilai yang tidak kita lihat.

Kita hanya perlu mengingat bahwa kita tidak selalu duduk di meja yang sama dengan alasan yang sama.

Dan mungkin, kalau suatu hari ada seseorang mengatakan kopinya terlalu mahal, saya tidak akan buru-buru bertanya, “Mahal dari mana?”

Saya mungkin akan bertanya dalam hati:

“Dia sedang membandingkannya dengan pengalaman yang mana?”

Karena ternyata, kita tidak hanya minum kopi.

Kadang kita sedang membeli rasa.

Kadang suasana.

Kadang waktu untuk diri sendiri.

Dan kadang, tanpa kita sadari, kita hanya sedang membeli alasan untuk duduk sebentar bersama seseorang.

Kopi hanyalah bagian yang kebetulan ada di atas meja.

Yang diseduh dan dinikmati pelan-pelan.

Similar Posts