Buku yang Tidak Selesai Dibaca, Apakah Tetap Berguna?
Pernah tidak, kamu menatap tumpukan buku di rak atau di meja samping tempat tidur, lalu tiba-tiba diserang rasa bersalah?
Jujur, saya sering mengalami ini. Ada buku yang baru dibaca seperempat jalan, ada yang mandek di bab tiga, bahkan ada yang cuma sempat dibuka beberapa halaman awal sebelum akhirnya dibiarkan berdebu. Dulu, saya selalu menganggap hal ini sebagai kegagalan. Rasanya seperti menyisa makanan atau menelantarkan janji.
Namun belakangan, cara pandang saya mulai bergeser, muncul pertanyaan: apakah buku yang tidak selesai dibaca benar-benar sia-sia?
Tidak Semua Buku Hadir untuk Ditamatkan
Ternyata, menyerap manfaat buku tidak selalu harus menunggu sampai halaman paling akhir ditutup.
Kadang, sebuah buku dibeli hanya untuk memberikan satu gagasan penting yang memang sedang kita butuhkan saat itu. Mungkin hanya dari satu bab atau bahkan dari satu kalimat yang secara tidak sengaja terngiang-ngiang di kepala, yang di mana perspektif kita terhadap suatu masalah sudah berubah.
Kalau satu kalimat itu berhasil membuat kita berpikir, merenung, atau melangkah dengan cara berbeda, bukankah buku itu sebenarnya sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik?
Menamatkan buku itu bonus. Namun, mendapatkan insight bernilai? Itulah esensi sebenarnya.
Buku Sebagai “Pengingat” Ketidaktahuan Kita
Meminjam istilah anti-library dari Nassim Nicholas Taleb, sebuah konsep yang menarik, yaitu koleksi buku terbaik bukanlah kumpulan buku yang sudah selesai kita baca, melainkan daftar buku yang belum kita baca.
Buku-buku yang belum selesai ini berfungsi sebagai jembatan kerendahan hati. Setiap kali kita melihatnya berjejer di rak, kita diingatkan bahwa pengetahuan kita selalu terbatas dan dunia ini jauh lebih luas dari apa yang sudah kita pahami.
Jadi, ketimbang menganggap tumpukan buku itu sebagai ‘utang’ yang membebani, kenapa tidak melihatnya sebagai ruang belajar yang siap kita kunjungi kapan saja?
Bebas dari Bebas Rasa Bersalah
Membaca seharusnya menjadi ruang yang aman dan menyenangkan, bukan beban tugas sekolah yang harus diperiksa nilainya. Minat kita berubah, fokus kita bergeser, dan waktu yang kita miliki pun tidak selalu selonggar dulu.
Jika sebuah buku terasa membosankan atau tidak lagi relevan dengan fase hidupmu sekarang, tidak apa-apa untuk menutupnya. Kamu tidak sedang berutang penjelasan pada siapa pun, bahkan pada sang penulis.
Lagipula, buku yang kamu sisihkan hari ini bukan berarti terbuang. Ia hanya sedang menunggu momen yang tepat. Siapa tahu, beberapa tahun lagi,nanti saat pengalaman hidupmu sudah bertambah, bisa jadi buku yang sama mendadak terasa begitu relate dan menyenangkan saat dibuka kembali.
Jadi, untuk kamu yang punya tumpukan buku belum selesai: tidak perlu merasa bersalah lagi, ya. Setiap lembar yang pernah kamu baca tetap punya jejaknya sendiri.
Nikmati pelan-pelan aja.