Kopi yang Cukup Enak
Dulu, saya mengenal kopi sebagai sajian yang amat sederhana. Waktu kuliah, ketika tenggat tugas makin memburu dan waktu tidur melayang entah ke mana, segelas kopi hadir sebagai penawar kantuk yang bisa diandalkan.
Kala itu, saya tak pernah ambil pusing soal jenis biji kopi atau teknik penyeduhannya. Prinsipnya sederhana: kopi ya kopi. Pilihan default saya adalah sasetan murah di warung atau minimarket terdekat, seperti merek-merek populer dari Kapal Api, Top Coffee, Nescafé, hingga jenama familier lainnya. Cukup gunting pembungkusnya, tuang ke dalam gelas, siram air panas, aduk sebentar, dan selesai.
Tak ada yang salah dengan itu; bahkan nyaris seluruh perjalanan ngopi saya memang bermula dari sana.
“Naik Kelas” Bersama Kedai dan Teman Kerja
Perkenalan saya dengan sisi lain dunia kopi baru dimulai ketika gelombang kedai kopi (coffee shop) mewabah di mana-mana. Awalnya saya sekadar ikut-ikutan, lalu beberapa kali diajak nongkrong oleh rekan kantor, yang bisa dibilang hampir semuanya teman-teman Gen Z yang tampaknya jauh lebih tanggap terhadap tren daripada saya.
Dari merekalah pemahaman saya mulai bergeser. Saya baru tahu bahwa kopi hitam ternyata bisa dinikmati murni tanpa gula. Bahkan, sajian kopi hitam dingin beralaskan es batu pun punya cita rasa yang nikmat. Saya yang tadinya mengira kopi wajib diinfuse rasa manis agar bisa tertelan pelan-pelan, mendadak tersadar: “Oh, ternyata begini karakter asli rasa kopi.”
Mungkin sejak saat itu standar lidah saya sedikit bergeser, atau boleh jadi lingkaran pertemanan itulah yang pelan-pelan “menaikkan kelas” pengalaman ngopi saya. Dari sekadar penahan kantuk, timbul rasa penasaran pada komoditas itu sendiri.
Ternyata, asal daerah biji kopi sangat menentukan karakter rasanya. Ada Gayo, Kintamani, Sidikalang, Ijen, dan tak terhitung lagi wilayah penghasil kopi di Nusantara. Belum lagi urusan peralatan dan metode ekstraksinya; untuk menghasilkan satu cangkir saja, orang bisa memiliki sederet peranti dan teknik yang beragam.
Saya bahkan punya teman dengan koleksi alat seduh kopi yang terbilang lengkap. Kadang saya bergurau, “Kapan nih mau buka warung kopi sendiri?”
Membumi dengan French Press di Rumah
Berbeda dengan teman saya itu, pendekatan saya jauh lebih minimalis. Alat seduh yang saya miliki di rumah hanya satu: sebuah French press. Dan sejauh ini, peranti sederhana itu sudah lebih dari cukup.
Saya bukan tipe orang yang rajin memburu coffee shop setiap akhir pekan. Saya jauh lebih menikmati momen ngopi di rumah. Selain karena sejak dulu saya tipe yang betah menghabiskan waktu sendirian, ada alasan lain yang lebih realistis: jauh lebih hemat.
Modalnya cukup berburu bubuk kopi bernuansa enak, harganya masuk akal, dan jika memungkinkan, usahakan yang usianya masih baru disangrai (fresh roast). Dengan itu saja, cangkir kopi yang menyenangkan sudah bisa tercipta di meja sendiri.
Sesekali godaan untuk menjajal biji Arabika dari berbagai penjuru daerah tetap ada. Membaca label Gayo, Kintamani, atau Ijen di marketplace sering kali memikat hati, terutama saat deskripsi produknya menjanjikan nuansa buah, cokelat, karamel, hingga floral. Namun begitu menatap deretan harganya, logika saya lekas menapak bumi kembali.
Kelas commercial grade saja dulu. Yang penting pas di lidah, dan yang paling utama: dompet tidak menjerit saat harus membelinya lagi ketika pasokan habis.
Esensi Sederhana di Samping Cangkir Hangat
Saya sama sekali tak punya ambisi untuk menjadi barista rumahan yang lihai menjabarkan istilah-istilah rumit tentang kopi. Saya hanya mulai sadar bahwa ada perjalanan panjang dan menarik di balik tiap cangkirnya. Biji berbeda melahirkan rasa yang berbeda, teknik menyeduh memberi nuansa tersendiri, dan makin banyak tahu, saya kian mengerti mengapa ada orang yang begitu serius merawat kegemaran ini.
Namun, saya juga belajar bahwa untuk dapat menikmati kopi, kita tak wajib menguasai seluruh teorinya. Saya tak perlu paham betul senyawa apa yang membuat satu biji terasa lebih asam buah (fruity) dibanding biji lainnya. Saya tak dituntut mengoleksi setengah lusin alat seduh, apalagi memaksakan diri membeli biji kopi termahal.
Saya hanya perlu menemukan rasa yang cocok di lidah, lalu menyeduhnya secara sederhana.
Rutinitasnya tak pernah muluk-muluk: setelah kopi terseduh, saya akan mengambil buku yang sedang ingin dibaca, sesekali menyalakan musik dari gawai, lalu duduk tenang menikmati uap hangat di sebelah meja. Tak ada ritual rumit, tak ada sudut foto yang perlu diatur, dan tak ada dorongan untuk membagikannya ke media sosial.
Hanya ada cangkir kopi, selembar halaman buku, alunan nada, dan waktu untuk diri sendiri.
Mungkin bagi orang lain, cara ini terbilang biasa saja dan jauh dari kesan istimewa. Namun bagi saya, ini sudah amat cukup. Saat ini, saya memang tidak sedang memburu cangkir kopi terbaik di dunia. Saya hanya mencari kopi yang cukup enak untuk membuat saya rindu menyeduhnya kembali esok hari.
Seduh pelan-pelan, nikmati secukupnya.