laptop-buku-catatan-dan-secangkir-kopi-di-atas-meja-dengan-hiasan-dekoreatif-bunga-kering

Mencari Sedikit Ruang di Tengah Keramaian

Belakangan saya merasa internet terlalu ramai, padahal sebenarnya saya bukan orang yang terlalu aktif di media sosial. Beberapa tahun terakhir, saya lebih banyak mengikuti akun-akun bookstagram dan beberapa publik figur yang pembahasannya memang saya sukai. Biasanya saya mengenal mereka dari podcast di YouTube, lalu mengikuti akun Instagram mereka untuk melihat potongan pembahasan atau topik yang akan mereka bicarakan berikutnya.

Di Rednote, saya lebih sering mencari referensi menggambar atau melihat fashion. Saya cukup suka gaya kasual yang simpel, jadi sesekali aplikasi itu lumayan berguna untuk mencari inspirasi. Selebihnya, saya tidak terlalu banyak berada di sana.

Meski begitu, kadang saya tetap merasa internet terlalu bising.

Mungkin karena memang ada jutaan konten yang dibuat setiap saat, sementara hanya sebagian kecil yang akhirnya sampai ke lini masa kita. Dari sekian banyak itu, hanya sebagian lagi yang benar-benar sesuai dengan apa yang sedang kita butuhkan. Kadang kita menemukan sesuatu yang menarik, tetapi kadang kita hanya melihat sesuatu karena algoritma memutuskan bahwa kita mungkin akan menyukainya.

Lalu kita terus menggulir.

Satu video, satu postingan, lalu satu lagi. Sampai akhirnya aplikasi ditutup dan kita bertanya-tanya, sebenarnya tadi kita sedang mencari apa?

Saya tidak menyalahkan media sosial. Ada banyak hal baik yang saya temukan di sana. Beberapa buku, ide menggambar, percakapan menarik, referensi fashion, bahkan orang-orang yang mungkin tidak akan pernah saya kenal kalau bukan karena internet.

Tetapi semakin lama, saya merasa tidak ingin ikut berlomba di antara jutaan akun yang setiap hari memproduksi jutaan konten. Bukan karena saya merasa lebih baik. Saya hanya tahu bahwa membuat konten terus-menerus bukan sesuatu yang terasa seperti diri saya.

Saya pernah mencoba membuat konten

Saya pernah iseng mengikuti kelas online tentang membuat konten. Awalnya cukup menarik karena saya jadi tahu bahwa sebuah konten ternyata tidak sesederhana apa yang terlihat setelah dipublikasikan. Ada proses sebelum produksi, proses produksi, sampai setelahnya. Ada ide yang harus dicari, materi yang perlu disiapkan, pengambilan gambar, editing, caption, dan berbagai hal lain yang harus dipikirkan.

Setelah konten selesai dibuat pun urusannya belum selesai. Masih ada pertanyaan tentang performa: berapa orang yang melihat, berapa yang menyukai, apakah perlu dibuat lagi, dan apa yang sedang disukai algoritma. Bagaimana supaya orang berhenti menggulir dan mau melihat konten kita?

Awalnya saya cukup antusias. Lama-lama, membayangkannya saja sudah terasa melelahkan.

Mungkin karena saya sadar bahwa sebagian besar orang datang ke media sosial untuk mencari hiburan. Sementara membuat konten hiburan secara terus-menerus bukan sesuatu yang terasa seperti saya. Saya lebih nyaman duduk dengan laptop, memikirkan sebuah cerita, menulis beberapa paragraf, membaca ulang, lalu mengubah bagian yang terasa kurang pas.

Mungkin prosesnya tidak secepat membuat video pendek, tetapi entah kenapa saya merasa lebih betah di sana.

Saya pernah menikmati Medium

Sebelum Seduh, saya cukup lama menulis di Medium dan sebenarnya menikmati pengalaman itu. Saya bisa menulis, membaca tulisan orang lain, dan sesekali mendapatkan penghasilan dari tulisan yang saya buat. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membuat saya merasa bahwa menulis sesuatu yang saya sukai ternyata bisa menghasilkan sedikit uang.

Untuk sementara, penghasilan itu bahkan cukup untuk menutup biaya membership. Ada semacam kepuasan kecil karena tulisan yang selama ini saya buat ternyata punya nilai ekonomi juga.

Tetapi kemudian keadaan berubah. Medium mengalami berbagai perubahan, termasuk upaya untuk membersihkan konten yang dianggap dibuat semata-mata demi mengejar monetisasi. Setelah itu, penghasilan saya turun cukup drastis sampai akhirnya biaya membership terasa tidak lagi sepadan dengan apa yang saya dapatkan.

Saya pun menghentikannya.

Tidak ada drama besar. Saya hanya mulai berpikir, kalau uang itu memang tetap ingin saya keluarkan untuk kegiatan menulis, mengapa tidak digunakan untuk sesuatu yang benar-benar saya miliki?

Maka saya membeli domain, menyewa hosting, dan mulai membangun Seduh.

Eh, saya sudah punya rumah kecil di internet

Mungkin bagian paling menyenangkan dari semua ini justru bukan soal strategi, traffic, atau bagaimana membuat orang datang. Saya masih menikmati perasaan sederhana ketika membuka seduh.id dan berpikir, “Eh, saya sudah punya rumah kecil di internet.”

Rasanya menyenangkan melihat sesuatu yang tadinya hanya ada di kepala perlahan menjadi nyata. Saya ikut mengutak-atik tampilannya, tidak sekadar mengambil template lalu membiarkannya begitu saja. Ada bagian-bagian kecil yang saya ubah sampai terasa lebih dekat dengan apa yang saya bayangkan.

Saya juga belajar mengatur hal-hal teknis yang sebelumnya tidak saya mengerti: DNS, hosting, SEO, Search Console, sitemap, dan entah berapa banyak istilah lain yang beberapa waktu lalu masih terasa seperti bahasa asing. Sekarang saya setidaknya sudah tahu sedikit lebih banyak. Belum tentu benar-benar paham semuanya, tetapi cukup untuk membuat website ini berdiri.

Lalu saya mulai mengisinya dengan tulisan.

Beberapa tentang kopi, buku, menggambar, belajar hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan, dan berbagai hal kecil lain yang mungkin terlihat sepele, tetapi ternyata cukup berarti bagi saya.

Meskipun proses membangun blog ini tidak saya lakukan sendiri, cerita-cerita personal yang ada di dalamnya tetap berasal dari pengalaman saya sendiri. Mungkin orang yang mengenal saya cukup dekat suatu hari akan membaca beberapa tulisan di sini lalu berkata, “Ini kamu banget.”

Padahal sisi seperti ini mungkin jarang sekali saya tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pekerjaan. Ada bagian dari diri saya yang lebih senang duduk sendiri dengan buku, menggambar, belajar sesuatu, atau sekadar membuat secangkir kopi dan mendengarkan musik.

Seduh memberi ruang untuk bagian itu.

Untuk sekarang, saya belum ingin buru-buru ramai

Tentu saya ingin ada orang yang membaca tulisan-tulisan di sini. Siapa yang tidak senang kalau tulisannya dibaca? Kalau suatu hari Seduh punya banyak pengunjung, tentu saya akan senang. Kalau kemudian bisa menjadi side hustle yang menghasilkan, saya juga akan jauh lebih bersyukur.

Saya tidak sedang berpura-pura bahwa traffic dan uang tidak penting. Tentu saja penting.

Tetapi untuk sekarang, saya belum ingin menjadikan keduanya sebagai pekerjaan utama. Saya masih ingin menikmati proses membangun Seduh: menulis, belajar, mengutak-atik tampilan, memperbaiki hal-hal kecil, mencoba memahami SEO, dan sesekali membuka website sendiri hanya untuk memastikan bahwa rumah kecil ini masih ada.

Rasanya seperti baru selesai pindah ke rumah baru. Kita belum memikirkan bagaimana mengadakan pesta besar. Masih sibuk menata kursi, memilih buku mana yang akan diletakkan di rak, dan mencari tempat yang paling enak untuk duduk.

Mungkin saya sedang berada di tahap itu.

Mungkin ada orang yang merasa seperti saya

Saya tidak tahu siapa yang akan membaca Seduh nanti. Mungkin orang yang menemukan tulisan ini lewat Google, seseorang yang mendapat rekomendasi dari temannya, atau seseorang yang sedang mencari tulisan tentang kopi lalu entah bagaimana tersesat ke tulisan tentang buku.

Saya juga tidak tahu apakah mereka akan membaca lebih dari satu artikel. Tidak apa-apa.

Saya hanya berharap, kalau ada yang mampir, mungkin mereka menemukan sesuatu yang terasa dekat. Mungkin seseorang yang sedang lelah dengan rutinitas, seseorang yang merasa media sosial yang awalnya menjadi hiburan perlahan berubah menjadi sesuatu yang terlalu bising, atau seseorang yang hanya ingin membaca cerita ringan sebelum tidur.

Mungkin mereka membaca satu tulisan tentang kopi, kemudian menemukan tulisan tentang menggambar atau buku. Lalu setelah selesai membaca, mereka berhenti sebentar dan berpikir, “Ah iya. Saya juga begitu.”

Kalau itu terjadi, saya sudah senang.

Tidak harus ribuan orang. Tidak harus viral. Mungkin hanya beberapa orang yang datang, membaca, lalu menemukan sesuatu yang terasa dekat dengan hidup mereka.

Tidak semua rumah mesti berada di tengah keramaian

Mungkin saya memang sedang mencari sedikit ruang. Bukan berarti ingin menghilang dari internet. Saya masih akan membaca, masih melihat beberapa akun yang saya sukai, masih mencari tutorial menggambar atau referensi lain ketika membutuhkannya.

Saya hanya tidak ingin terus-menerus merasa harus ikut memproduksi keramaian.

Untuk sementara, saya ingin Seduh berjalan dengan pelan. Saya ingin menulis ketika memang ada sesuatu yang ingin saya ceritakan dan mengisi rumah ini sedikit demi sedikit. Mungkin nanti akan ada newsletter, mungkin suatu hari saya akan mencoba format audio atau video yang lebih panjang, dan mungkin media sosial akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Seduh.

Saya tidak tahu. Dan untuk sekarang saya tidak perlu memutuskan semuanya.

Saya hanya ingin menikmati kenyataan bahwa saya sudah punya tempat sendiri: sebuah rumah kecil di internet, tempat saya bisa menulis tentang kopi yang cukup enak, buku yang belum selesai dibaca, oil pastel yang baru saya pelajari, hal-hal yang sedang saya coba pahami, dan berbagai kesenangan kecil yang mungkin tidak akan pernah menjadi sesuatu yang besar.

Barangkali nanti rumah ini akan semakin ramai. Saya tentu akan menyambut siapa pun yang datang. Tetapi untuk sekarang, saya ingin duduk sebentar di terasnya, menyeduh kopi, membuka buku, mendengarkan musik, menulis sedikit, dan menikmati rumah kecil yang baru saja saya bangun.

Tidak perlu buru-buru ramai.

Seduh pelan-pelan. Barangkali seseorang akan mampir.

Similar Posts