Seandainya Kita Tidak Punya Banyak Waktu
Pada akhirnya, kita semua hanya sedang singgah. Maka yang paling penting mungkin bukan seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa utuh kita hadir.
Ada fase dalam hidup, ketika saya berhenti menghitung usia, lalu mulai menghitung hal-hal yang benar-benar saya alami.
Berapa banyak matahari terbit, yang sempat saya lihat sebelum berangkat bekerja. Berapa banyak percakapan yang masih saya ingat. Berapa banyak buku yang mengubah cara saya memandang hidup. Dan berapa kali saya menunda kebahagiaan, hanya karena merasa masih ada hari esok.
Barangkali, tanpa sadar kita memang hidup dengan keyakinan bahwa waktu selalu tersedia.
Kita menunggu momen yang tepat untuk memulai. Menunggu keadaan membaik. Menunggu seseorang datang, meminta maaf, atau akhirnya mengerti. Seolah hidup baru benar-benar dimulai setelah semua yang kita harapkan terjadi.
Padahal, siapa yang bisa memastikan hari esok?
Kita Tidak Sedang Berlomba
Sulit sekali hidup di zaman ketika kehidupan orang lain selalu terlihat begitu dekat, seolah-olah di depan mata kita.
Dalam beberapa menit, kita bisa melihat seseorang lulus kuliah, menikah, membeli rumah, pindah ke negara lain, atau membangun bisnis yang tampaknya berjalan sempurna. Lalu diam-diam kita mulai mengukur hidup sendiri dengan penggaris yang bukan milik kita.
Saya juga pernah (baca: masih) melakukannya.
Bertanya-tanya mengapa perjalanan saya terasa lebih lambat. Mengapa ada mimpi yang belum juga tercapai. Mengapa rasanya saya selalu tertinggal.
Bertambahnya usia membuat saya mulai menyadari, bahwa mungkin kita memang tidak pernah berada di lintasan yang sama.
Setiap orang membawa alasan yang berbeda untuk bangun setiap pagi. Ada yang sedang membangun keluarga, ada yang merawat orang tua, ada yang menyembuhkan luka yang bahkan tidak terlihat oleh siapa pun. Maka bagaimana mungkin perjalanan yang begitu berbeda, harus menghasilkan garis akhir yang sama?
Mungkin hidup memang tidak meminta kita menjadi lebih cepat dari orang lain, ia cuma meminta kita tetap berjalan.
Berhenti Menunggu Validasi
Kadang tanpa kita sadari, kita terlalu menggantungkan hidup pada sesuatu yang berada di luar kendali. Menunggu dihargai, menunggu dipilih, menunggu orang lain melihat usaha yang sudah kita lakukan.
Padahal, semakin lama saya hidup, semakin saya percaya bahwa ketenangan sering lahir ketika kita berhenti menunggu validasi.
Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain. Kita tetap membutuhkan cinta, persahabatan, dan kehadiran sesama manusia. Tetapi ada perbedaan, antara menerima kasih sayang dengan menggantungkan harga diri pada penerimaan orang lain.
Kadang kita hanya perlu melakukan hal yang kita yakini baik, lalu membiarkan hasilnya berjalan sebagaimana mestinya.
Seperti tulisan di blog ini, saya tidak pernah tahu siapa yang akan membaca tulisan ini. Mungkin hanya beberapa orang. Mungkin seseorang menemukannya bertahun kemudian. Dan ternyata itu tidak lagi terasa terlalu penting. Karena menulis sendiri sudah menjadi bagian keseharian saya.
Memaafkan Hati yang Pernah Salah
Bagian yang paling sulit dalam bertumbuh ternyata bukan memulai.
Melainkan memaafkan diri sendiri. Yup, ini benar-benar saya alami.
Kita sering membawa kesalahan lama seperti ransel di punggung yang tidak pernah diturunkan. Mengingat keputusan yang keliru, kata-kata yang menyakiti seseorang, kesempatan yang terlewat, atau keberanian yang tidak pernah kita miliki saat itu.
Lucunya, kita begitu mudah memahami kesalahan orang lain.Tetapi sangat pelit welas kasih kepada diri sendiri, benar kan?
Padahal diri kita yang dulu juga sedang belajar. Ia mengambil keputusan dengan pengetahuan yang ia miliki saat itu. Ia takut karena belum pernah melewati jalan tersebut. Ia jatuh bukan karena ingin gagal, melainkan karena belum tahu cara berjalan.
Mungkin hati kita memang pernah salah memilih.Dan mungkin, hati itu juga pantas dimaafkan. Bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi agar kita tidak terus tinggal di sana.
Hari Ini Masih Ada
Belakangan saya semakin menyukai hal-hal yang sederhana.
Seperti langit sore yang berubah warna ketika perjalanan pulang, suara angin yang masuk dari jendela, atau bulan yang tiba-tiba terlihat bulat sempurna, ketika listrik di sekitar rumah mulai redup, juga secangkir kopi hangat yang menemani beberapa halaman buku sebelum tidur.
Dulu saya mengira kebahagiaan selalu datang dalam bentuk pencapaian besar. Ternyata tidak. Justru ia sering hadir sebagai sesuatu yang nyaris tidak kita sadari, karena terlalu sibuk mengejar hal berikutnya.
Mungkin itu sebabnya kita perlu sesekali berhenti.
Bukan untuk menyerah, melainkan untuk benar-benar melihat bahwa hidup sedang berlangsung sekarang. Bukan nanti ketika semuanya sempurna.
Sekarang.
Saat napas masih terasa lega. Saat langit masih bisa dipandang. Saat masih ada orang-orang yang menerima kita apa adanya.
Kelak Kita Akan Menjadi Kenangan
Pernah saya berpikir bahwa rasanya begitu menakutkan ketika dilupakan.
Namun belakangan, pikiran itu justru terasa membebaskan.
Suatu hari nanti, nama kita mungkin hanya tinggal di ingatan beberapa orang. Foto-foto akan tersimpan di pigura, di galeri penyimpanan gawai atau awan. Tulisan-tulisan mungkin tetap ada, mungkin juga hilang bersama waktu. Tidak ada satu pun yang benar-benar abadi.
Dan justru karena itulah, hidup terasa begitu berharga.
Kita tidak harus meninggalkan sesuatu yang luar biasa agar kehidupan ini berarti. Barangkali cukup meninggalkan kebaikan pada orang-orang yang pernah kita temui. Cukup mencintai dengan tulus. Cukup menjalani hari-hari dengan hati yang sedikit lebih ramah, lebih lembut daripada kemarin.
Besok mungkin akan membawa cerita yang berbeda. Bisa jadi ada kabar baik, mungkin juga sebaliknya.
Tetapi malam ini, bulan masih ada di sana. Angin masih berembus pelan. Dan kita masih di sini.
Barangkali, untuk hari ini, itu sudah lebih dari cukup. Alhamdulillah.