cangkir-kopi-putih-dan-buku-terbuka-di-meja-kayu-dan-rak-perpustakaan

Sebelum Filsafat: Ketika Filsafat Tak Lagi Terasa Menakutkan

Ketertarikan saya pada buku Sebelum Filsafat bermula dari kebiasaan menonton kanal YouTube Pak Fahruddin Faiz. Entah kenapa, setiap kali beliau berbicara, rasanya selalu ada sesuatu yang naymbung dengan apa yang sedang saya pikirkan. Tak jarang pembahasannya seperti datang pada waktu yang tepat, menjawab kegalauan atau overthinking yang sedang saya alami.

Cara beliau menyampaikan sesuatu juga membuat saya nyaman untuk mendengarkan. Tenang, tidak menggurui, dan seringkali disertai contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sana saya mulai merasa bahwa hal-hal yang selama ini saya anggap rumit, termasuk filsafat, ternyata tidak selalu harus didekati dengan cara rumit pula.

Sebelumnya, saya bukan orang yang terlalu tertarik dengan filsafat. Bagi saya, filsafat identik dengan pemikiran yang berat, istilah-istilah asing, dan buku-buku yang mungkin membutuhkan kesabaran ekstra untuk menamatkannya.

Saya bahkan pernah beranggapan bahwa terlalu jauh mempelajari filsafat bisa membuat seseorang semakin jauh dari agama. Mungkin karena saya megenal filsafat lebih banyak dari anggapan-anggapan yang beredar daripada dari pengalaman mempelajarinya sendiri.

Pandangan itu perlahan berubah setelah saya mulai mendengarkan kajian-kajian Pak Faiz dan kemudian membaca Sebelum Filsafat.

Saya mulai melihat bahwa filsafat tidak selalu harus ditempatkan berseberangan dengan agama. Ia bisa menjadi salah satu jalan untuk mempertanyakan sesuatu dengan lebih jernih, memahami kehidupan dengan lebih luas, sekaligus mengenali keterbatasan diri.

Sebuah Pintu Masuk Sebelum Memasuki Filsafat

Sebelum Filsafat terasa seperti sebuah pintu masuk bagi pembaca awam yang ingin mengenal filsafat tanpa harus langsung berhadapan dengan pemikiran yang terlalu berat.

Sesuai judulnya, buku ini tidak buru-buru membawa pembaca masuk ke dalam dunia filsafat. Ada semacam persiapan yang perlu dilakukan terlebih dahulu. Kita diajak memahami bagaimana seharusnya cara berpikir dibangun sebelum mulai berhadapan dengan berbagai pemikiran filosofis.

Bab demi bab terasa seperti ajakan untuk menata kembali cara kita melihat kehidupan. Tentang kesadaran terhadap keterbatasan diri, keberanian untuk berpikir kritis, kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, sekaligus pentingnya memiliki pijakan nilai dan spiritualitas.

Bagi saya, bagian yang paling berkesan justru berada di penghujung buku, terutama bab 13 dan 14.

Pada bagian tersebut, Pak Faiz memberikan semacam wejangan bagi siapa pun yang ingin menjadi seorang filsuf. Bukan dalam pengertian seseorang yang sekadar menguasai teori atau mampu menghafalkan pemikiran para filsuf, melainkan seseorang yang berusaha menjalani hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan.

Di bagian ini, ada sesuatu yang terasa hangat. Rasanya seperti mendengarkan seorang guru berbicara kepada muridnya: sederhana, tetapi menyisakan sesuatu untuk dipikirkan setelah buku ditutup.

Mungkin di situlah saya mulai memahami bahwa filsafat tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana kita berpikir. Ia juga berkaitan dengan bagaimana kita menjalani kehidupan setelah berpikir.

Tidak Harus Membaca Buku yang Berat

Ada beberapa kali saya berhenti ketika membaca buku ini. Bukan karena tidak memahami isinya, melainkan karena beberapa pembahasannya membuat saya ingin memberikan sedikit jarak dari halaman buku dan merenungkannya.

Saya memikirkan kembali cara saya melihat berbagai hal. Bagaimana saya mengambil keputusan, bagaimana saya merespons sesuatu yang terjadi dalam hidup, dan seberapa sering saya menerima sesuatu begitu saja tanpa benar-benar mempertanyakannya.

Di titik tertentu, buku ini terasa bukan lagi sekadar buku tentang filsafat, seperti mengajak saya bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Saya juga sempat membandingkan diri dengan orang lain.

Ada teman-teman yang sudah membaca buku-buku yang selama ini bagi saya terasa berat. Seperti karya-karya Kafka, Sartre, Dostoevsky, dan berbagai buku lain yang membuat saya merasa masih sangat jauh dari dunia yang mereka masuki.

Sementara saya masih membutuhkan buku pengantar untuk sekadar memahami bagaimana memulai belajar filsafat.

Mungkin memang tidak ada perlombaan dalam membaca.

Setiap orang memiliki pintu masuknya sendiri. Ada yang bisa langsung membaca karya-karya yang berat, ada pula yang membutuhkan buku pengantar, video, diskusi, atau percakapan sederhana sebelum akhirnya berani melangkah lebih jauh.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Justru melalui Sebelum Filsafat, saya belajar untuk tidak terlalu sibuk mengukur perjalanan saya dengan perjalanan orang lain. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena orang lain sudah membaca lebih banyak atau memahami sesuatu lebih jauh.

Barangkali yang lebih penting adalah tetap memiliki keinginan untuk belajar.

Ketika Filsafat Menjadi Lebih Membumi

Salah satu hal yang saya sukai dari buku ini adalah cara filsafat ditempatkan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Filsafat tidak terasa seperti sesuatu yang hanya pantas dibicarakan di ruang kelas atau meja diskusi. Ia bisa hadir dalam pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kita temui dalam kehidupan: tentang siapa diri kita, bagaimana seharusnya menjalani hidup, mengapa kita mempercayai sesuatu, dan bagaimana kita menentukan apa yang benar atau baik.

Dari sana saya mulai memahami mengapa filsafat sebenarnya tidak terlalu asing dengan kehidupan manusia.

Kita mungkin tidak menyebutnya filsafat ketika sedang merenung sendirian. Kita mungkin tidak sadar sedang berpikir filosofis ketika mempertanyakan keputusan yang kita ambil atau mencoba memahami mengapa hidup membawa kita pada suatu keadaan.

Tetapi bukankah pada dasarnya kita memang terus mencari makna?

Mungkin itu pula yang membuat buku ini terasa dekat bagi saya. Ia tidak membuat filsafat menjadi sesuatu yang semakin jauh dan eksklusif. Sebaliknya, ia membuat saya merasa bahwa pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Hanya saja, kita jarang memberi waktu untuk benar-benar memikirkannya.

Sebuah Awal yang Sederhana

Saya membaca Sebelum Filsafat dalam event Sebuku bersama komunitas Ufuk Literasi. Awalnya, saya memang seperti sedang memaksa diri untuk menuntaskan sebuah buku, yang sebenarnya belum terlalu saya yakini akan saya nikmati.

Ternyata saya keliru.

Buku ini justru menjadi salah satu pengalaman membaca yang membuat saya beberapa kali ingin berhenti, bukan karena bosan, tetapi karena ada bagian-bagian yang terasa perlu dicerna lebih lama.

Saya mungkin belum bisa mengatakan bahwa saya sudah memahami filsafat. Jangankan memahami, untuk menyebut diri sebagai pembaca filsafat saja rasanya masih terlalu jauh.

Tetapi mungkin saya tidak perlu terburu-buru sampai ke sana.

Sebelum Filsafat mengingatkan saya bahwa belajar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang sulit. Kita boleh memulai dari hal yang sederhana, dari buku yang ringan, dari rasa penasaran yang kecil.

Yang penting adalah berani membuka pintu terlebih dahulu.

Dan bagi saya, buku ini adalah pintu itu.

Bukan pintu yang langsung membawa saya menjadi seorang filosof, tetapi pintu yang membuat saya tidak lagi merasa bahwa filsafat adalah sesuatu yang harus ditakuti.

Barangkali, pada akhirnya, filsafat memang bukan hanya tentang bagaimana kita berpikir.

Tapi juga tentang bagaimana kita belajar memahami kehidupan, mengenali diri sendiri, dan perlahan-lahan berusaha menjadi manusia yang lebih utuh.

Judul Buku: Sebelum Filsafat
Penulis: Fahruddin Faiz
Penerbit: Yogyakarta MJS Press
Jumlah Halaman: 296 Hlm.

Similar Posts