Kita Tidak Seistimewa Itu, dan Mungkin Itulah yang Melegakan
Akhir-akhir ini, saya sering merasa algoritma seperti tahu apa yang sedang saya pikirkan.
Baru saja membicarakan sesuatu dengan teman atau senior, tidak lama kemudian muncul konten yang membahas hal serupa. Rasanya seperti, “Kok bisa pas sekali sih?”
Mungkin memang ada penjelasan sederhananya. Algoritma belajar dari apa yang kita tonton, cari, klik, atau berhenti lebih lama untuk membacanya. Bisa jadi kita juga sedang lebih peka terhadap topik tertentu sehingga lebih mudah menyadarinya ketika muncul di layar.
Tetapi pengalaman seperti ini membuat saya kembali memikirkan satu hal: di tengah begitu banyak hal yang masuk ke kepala setiap hari, kesadaran diri menjadi semakin penting.
Sebab tidak semua yang terasa relate memang ditujukan khusus untuk kita.
Terlalu Lama Hidup di Dalam Kepala Sendiri
Ada masanya, ketika saya merasa setiap kesalahan kecil yang saya lakukan akan diingat orang lain.
Salah bicara di depan orang, salah mengambil keputusan, atau melakukan sesuatu yang menurut saya memalukan. Setelahnya, kejadian itu bisa berulang-ulang muncul di kepala. Saya memikirkannya jauh lebih lama daripada orang lain mungkin pernah memikirkannya.
Belakangan saya sadar, mungkin memang begitulah cara pikiran bekerja.
Kita terlalu lama hidup di dalam kepala sendiri, sehingga mudah mengira bahwa semua yang kita lakukan juga menjadi perhatian orang lain.
Padahal, kebanyakan orang sedang sibuk dengan hidup mereka sendiri.
Mereka sedang memikirkan pekerjaan, tagihan, anak-anak, hubungan, kesehatan, atau kesalahan yang mereka lakukan kemarin. Mereka juga sedang sibuk memikirkan apakah dirinya cukup baik, cukup berhasil, atau sudah terlambat memulai sesuatu.
Kita semua ternyata sama-sama sibuk menjadi tokoh utama dalam kehidupan masing-masing.
Beban dari Kalimat “Kamu Punya Bakat”
Sejak kecil, sebagian dari kita tumbuh dengan berbagai pujian: pintar, berbakat, punya masa depan, pasti bisa menjadi seseorang.
Kalimat-kalimat itu tentu menyenangkan. Tetapi ketika dewasa, pujian tersebut kadang berubah menjadi semacam utang yang harus dibayar.
Kita merasa hidup seharusnya menghasilkan sesuatu yang besar.
Kalau pekerjaan masih begitu-begitu saja, mulai merasa tertinggal. Kalau hobi tidak berkembang menjadi penghasilan, merasa kurang produktif. Kalau hidup ternyata hanya diisi rutinitas sederhana, kita jadi bertanya-tanya, “Bukankah seharusnya saya bisa lebih dari ini?”
Belum lagi zaman sekarang seolah mengajarkan bahwa segala sesuatu harus punya nilai jual.
Hobi bisa menjadi side hustle. Pengalaman bisa menjadi konten. Bahkan proses menyembuhkan diri pun kadang terasa harus menghasilkan sebuah cerita inspiratif.
Tanpa kita sadari menghabiskan banyak tenaga untuk membuktikan bahwa hidup kita berarti.
Padahal mungkin kita tidak perlu membuktikan sebanyak itu.
Ketika Attachment dan Ekspektasi Perlahan Menyakiti
Mungkin yang membuat semua itu terasa berat bukan hanya kenyataan, tetapi keterikatan kita pada gambaran tentang bagaimana kehidupan seharusnya berjalan.
Kita punya bayangan tentang diri sendiri. Tentang karier. Tentang hubungan. Tentang kesuksesan. Tentang seperti apa seharusnya hidup kita di usia tertentu.
Semakin kuat kita melekat pada gambaran tersebut, semakin besar pula kemungkinan kita kecewa ketika kenyataan berjalan ke arah lain.
Media sosial kemudian memperumit semuanya.
Kita melihat orang lain membeli rumah, mendapatkan promosi, traveling, menikah, memulai bisnis, mencapai 1 Milyar pertamanya, menerbitkan buku, atau sekadar terlihat bahagia. Jika kita sudah memiliki ukuran tertentu tentang keberhasilan, semua itu mudah berubah menjadi cermin yang membuat kita merasa kurang.
Padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata kita, dengan potongan kehidupan orang lain yang memang dipilih untuk ditampilkan.
Karena itu, mungkin kita perlunya sesekali bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Mana yang memang penting bagi saya dan mana yang muncul karena melihat orang lain?
Apakah saya sedang mengejar sesuatu karena saya menginginkannya, atau karena saya takut dianggap tidak cukup?
Tidak semua yang seolah relate harus kita percaya. Tidak semua yang muncul di beranda harus kita ikuti. Dan tidak semua hal yang membuat kita merasa tertinggal benar-benar berarti kita sedang tertinggal.
Dunia Tidak Terlalu Memperhatikan Kita
Ada sesuatu yang cukup melegakan, ketika menyadari bahwa kita sebenarnya tidak terlalu penting bagi sebagian besar orang.
Bukan berarti hidup kita tidak berharga.
Justru sebaliknya.
Kita boleh melakukan kesalahan tanpa harus merasa dunia akan mengingatnya selamanya. Kita boleh menjadi pemula. Kita boleh mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil. Kita bahkan boleh menjalani hari yang biasa-biasa saja tanpa harus menjadikannya pencapaian.
Orang lain mungkin akan melihatnya sebentar, lalu kembali kepada hidup mereka.
Dan kita pun seharusnya melakukan hal yang sama.
Tidak semua kegagalan perlu menjadi pelajaran besar. Tidak semua pengalaman harus menghasilkan sebuah takeaway. Kadang sesuatu cukup terjadi, kita belajar sedikit darinya, kemudian melanjutkan hidup.
Tidak Istimewa Bukan Berarti Tidak Berarti
Ada satu jebakan lain yang juga menarik.
Ketika mulai menyadari bahwa diri kita bukan pusat dunia, kita masih bisa menjadikan kesadaran itu sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Merasa lebih sadar. Lebih sederhana. Lebih dewasa. Lebih rendah hati.
Padahal ego memang lihai menyamar.
Mungkin yang lebih penting bukan merasa bahwa kita lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain, melainkan menyadari bahwa kita semua sedang menjalani kehidupan yang sama-sama rumit.
Orang yang kita temui di jalan juga punya kekhawatiran yang tidak kita ketahui. Orang yang terlihat baik-baik saja mungkin sedang berusaha bertahan. Dan orang yang hidupnya terlihat jauh lebih berhasil mungkin juga sedang bergulat dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat.
Kesadaran seperti ini justru membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.
Menjadi Biasa-biasa Saja Sepertinya Bukan Ide Buruk
Sebagian besar dari kita, mungkin tidak akan pernah menjadi orang yang namanya dikenang sejarah.
Bisa jadi kita hanya akan menjalani kehidupan yang sederhana. Bekerja, pulang, mengurus keluarga, membaca buku, menikmati kopi, tertawa bersama orang-orang terdekat, lalu mengulanginya lagi esok hari.
Dan itu tidak apa-apa.
Kita tidak harus menjadi luar biasa untuk membuat hidup kita berarti.
Kita boleh punya ambisi. Boleh mengejar sesuatu yang besar. Tetapi kita juga boleh berhenti sejenak tanpa merasa sedang menyia-nyiakan potensi.
Sebab hidup tidak dimulai ketika kita berhasil menjadi seseorang.
Hidup sedang berlangsung sekarang.
Di hari-hari yang biasa. Di pekerjaan yang mungkin melelahkan. Di meja makan. Di halaman buku yang sedang kita baca. Di percakapan kecil dengan orang yang kita sayangi.
Ternyata kita memang tidak seistimewa itu di mata dunia.
Dan anehnya, ketika menyadarinya, ada beban yang perlahan terlepas.
Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan apa-apa.
Kita hanya perlu cukup sadar untuk tahu mana yang benar-benar kita inginkan, mana yang sekadar ditanamkan oleh dunia, lalu menjalani hidup kita dengan lebih tenang selama masih diberi kesempatan untuk menjalaninya.