Mengapa Saya Lebih Sering Menyeduh Kopi di Rumah
Saya tidak terlalu sering ngopi di luar.
Salah satunya tentu karena saya memang lebih nyaman berlama-lama di rumah. Namun kalau mau jujur, ada alasan lain yang tidak kalah penting: lebih hemat. Dengan nominal yang mungkin hanya cukup untuk satu atau dua cangkir kopi di kedai, saya sudah bisa membeli sebungkus bubuk kopi yang cukup untuk belasan kali seduh sendiri.
Lagi pula, saya tidak butuh kopi yang terlalu istimewa. Selama rasanya masih cukup enak di lidah, harganya relatif terjangkau, dan diproses fresh roast, itu sudah lebih dari cukup. Sesederhana itu.
Sesekali Tergoda Juga dengan Kopi Berbagai Daerah Nusantara
Meski begitu, saya tetap punya rasa penasaran seperti kebanyakan penikmat kopi lainnya.
Kadang saat berselancar di marketplace, mata saya sering tertahan pada nama-nama daerah yang terdengar menarik: Gayo, Kintamani, Sidikalang, hingga Ijen. Katanya, tiap daerah punya karakter rasa tersendiri, ada yang beraroma buah, terasa seperti cokelat, hingga kejutan rasa asam yang digambarkan dengan apik di kemasannya.
Tentu saja saya tergoda, apalagi kalau desain kemasannya estetik dan deskripsinya meyakinkan. Rasanya seperti diajak berjalan-jalan melintasi pelosok Indonesia hanya lewat secangkir kopi.
Namun pada akhirnya, setelah melihat label harga dan berpikir realistis, saya selalu kembali pada pilihan yang paling ramah di kantong: commercial grade.
(Tolong, jangan bully saya, ya. 😁)
Ini bukan karena saya tidak menghargai biji kopi berkualitas tinggi. Saya hanya paham betul batas kemampuan lidah dan dompet sendiri. Lagipula, saya tidak sedang mengikuti kompetisi cupping kopi; saya cuma ingin minum kopi yang enak sambil membaca buku.
Hanya Punya Satu Alat Seduh
Dapur saya pun tidak menyimpan barisan alat seduh yang rumit. Tidak ada rak khusus yang penuh dengan perlengkapan v60 atau syphon. Alat yang paling sering saya andalkan hanyalah satu: French press.
Prosesnya sangat sederhana. Kalau ingin menikmati kopi tanpa ampas, saya tinggal menyiapkan bubuk kopi, menyiram air panas ke French press, lalu menunggu beberapa menit sebelum menuangkannya ke cangkir.
Sudah, selesai. Tidak rumit, tanpa ritual yang ribet. Dan mungkin justru karena kepraktisan itulah saya menyukainya.
Kopi yang Tidak Perlu Buru-Buru
Setelah kopi siap, saya biasanya membawanya ke sudut ruangan yang paling nyaman. Kadang ditemani lembaran buku, kadang diiringi denting musik, atau sering kali hanya duduk diam membiarkan pikiran berkelana ke mana-mana.
Di rumah, tidak ada yang harus saya kejar. Tidak ada meja yang harus segera dikosongkan karena pembaca lain sedang mengantre, tidak ada bising kendaraan luar, dan tidak ada kewajiban untuk membuat momen itu terlihat estetik. Hanya ada saya, secangkir kopi hangat, dan sedikit waktu luang.
Barangkali ini alasan utama mengapa saya lebih suka menyeduh sendiri. Bukan karena racikan di rumah selalu lebih enak dari barista, bukan pula karena saya benci kedai kopi, saya hanya menemukan bahwa rumah adalah tempat paling pas untuk menikmati secangkir keheningan.
Bukan Sekadar Soal Rasa
Semakin sering menyeduh sendiri, saya menyadari bahwa pengalaman minum kopi sebenarnya tidak berhenti pada cecapan rasa di lidah. Ada estetika sederhana di dalamnya: bunyi gemericik air saat dituangkan, aroma sangrai yang perlahan menyeruak mengisi ruangan, hingga hangatnya cangkir yang menjalar ke telapak tangan.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin terdengar sepele. Namun, bukankah sebagian besar hidup kita memang tersusun dari rentetan momen sepele?
Kita bangun, kerja, pulang, membereskan rumah, menatap layar ponsel, lalu tidur untuk mengulanginya esok hari. Rutinitas seperti itu rentan membuat hari-hari terasa seperti salinan yang identik plek ketiplek. Padahal, jika kita perhatikan lebih dekat, tidak ada hari yang benar-benar sama. Langit hari ini tidak persis sama dengan kemarin, kopi yang saya seduh pagi ini punya sedikit beda rasa, dan diri kita sendiri pun terus berubah secara perlahan.
Menikmati Tanpa Harus Mahal
Bertambahnya usia membuat saya makin paham bahwa sesuatu tidak harus dibuat mahal untuk bisa dinikmati. Kopi yang baik tidak selalu lahir dari kedai yang cantik, buku yang berkesan tidak harus terbitan paling anyar, dan waktu yang berharga tidak selalu butuh perjalanan jauh.
Kadang, sesuatu terasa jauh lebih dekat justru karena kita mengolahnya dengan tangan sendiri.
Saya bebas memilih jenis kopi sesuai kemampuan, menentukan kapan ingin menyeduhnya, mengolahnya dengan cara paling simpel, lalu menikmatinya tanpa perlu terburu-buru. Bagi saya, itu sudah sangat cukup.
Mungkin suatu hari nanti saya akan belajar lebih banyak tentang seluk-beluk kopi, atau akhirnya membeli biji Gayo dan Sidikalang saat ada rezeki lebih. Namun untuk saat ini, saya sudah cukup bahagia dengan cangkir commercial grade yang hangat di meja.
Jadi, kalau besok-besok saya kembali membeli kopi kemasan murah, anggap saja saya sedang berdamai dengan lidah dan dompet sendiri.
Seduh airnya, duduk sebentar, lalu biarkan hari berjalan sebagaimana mestinya