Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan
Saya membeli buku ini tanpa alasan yang terlalu serius, murni sebuah blind buy karena sedang ada promo di marketplace. Entah bagaimana, buku berjudul Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian tapi Perjalanan karya Sabrina Ara ini akhirnya mendarat di meja saya. Pembelian tanpa rencana seperti ini jangan ditiru, ya.
Jujur, awalnya saya merasa judul buku ini agak kurang relevan. Saya tinggal di desa, jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan hustle culture yang sering kita dengar di media sosial. Jadi, untuk apa belajar hidup pelan? Bukankah ritme hidup saya di desa sudah cukup pelan?
Ternyata, saya keliru.
Ketika Hidup Pelan Menjadi Sebuah Kemewahan
Belakangan ini, konten tentang slow living makin sering lalu-lalang di garis waktu kita: foto rumah dengan pencahayaan yang tenang, secangkir kopi hangat di pagi hari, momen membaca buku, berkebun, berjalan santai, hingga menikmati sore tanpa terburu-buru. Semuanya terlihat begitu indah dan menggiurkan.
Namun, ada satu hal yang sering membuat saya bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang punya kesempatan untuk hidup seperti itu?
Saya memperhatikan bahwa tak sedikit konten slow living justru lahir dari mereka yang sebelumnya telah bertahun-tahun tenggelam dalam hustle culture. Mereka bekerja ekstra keras, membangun karier, membesarkan bisnis, menumpuk tabungan, dan setelah mencapai titik tertentu, mereka memutuskan untuk memperlambat hidup. Ada sebuah paradoks yang menarik di sini: jangan-jangan kita sedang bekerja sangat keras hanya agar suatu hari nanti bisa membeli hak untuk hidup lebih pelan.
Kerja keras dulu, kumpulkan aset, capai kebebasan finansial, baru kemudian berhenti berlari. Saya tidak mengatakan pola ini salah; bagi sebagian orang, mungkin itu jalan yang paling rasional.
Tetapi, ada banyak orang yang tidak memiliki kemewahan untuk memilih antara hustle atau slow living. Mereka harus bekerja setiap hari demi membayar tagihan, memikirkan pendidikan anak, menopang orang tua, dan memenuhi berbagai kebutuhan mendesak yang tak bisa ditunda hanya demi sebuah impian “hidup tenang”. Bagi mereka, konsep hidup pelan mungkin terdengar seperti romantisisme kemewahan yang jauh dari realitas.
Apakah Kita Semua Punya Pilihan yang Sama?
Inilah alasan mengapa saya agak berhati-hati setiap kali mendiskusikan slow living. Kadang, orang-orang membicarakannya seolah-olah semua orang berdiri di titik start yang sama—seolah kalau lelah kita tinggal berhenti, kalau beban kerja menumpuk tinggal dikurangi, dan kalau ritme hidup terlalu cepat tinggal diperlambat. Padahal kenyataannya tidak pernah sesederhana itu.
Di sisi lain, ada pula orang yang memang menikmati kerja keras. Mereka bahagia mengejar target dan membangun sesuatu. Tidak semua orang yang sibuk adalah korban yang terperangkap dalam hustle culture. Sementara itu, ada orang yang merindukan ketenangan, tetapi keadaan belum memberi cukup ruang baginya untuk memilih.
Jadi, mungkin persoalannya bukan sekadar memilih antara hustle atau slow living. Pertanyaan yang jauh lebih membumi adalah: bagaimana kita menemukan ritme hidup yang masih manusiawi, sesuai dengan kondisi yang kita miliki saat ini?
Tak Harus Terlihat Seperti di Instagram
Di titik inilah buku Sabrina Ara menjadi sangat menarik bagi saya. Buku setebal 115 halaman ini sama sekali tidak menghakimi atau menyuruh pembacanya untuk berhenti bekerja, membuang ambisi, dan mendadak pindah ke pedesaan. Justru sebaliknya.
Pesan utama yang saya tangkap adalah bahwa hidup yang lebih lambat bukan berarti hidup yang kehilangan arah atau tanpa tujuan. Kita tetap boleh bekerja, mengejar impian, dan berambisi untuk berkembang. Namun, kita tidak harus melakukan segalanya dengan tergesa-gesa.
Ada perbedaan besar antara bergerak dan terburu-buru. Kita bisa tetap berjalan maju tanpa harus selalu berlari napas terengah-engah, memiliki cita-cita tanpa menjadikan setiap hari sebagai arena perlombaan, dan beristirahat tanpa disiksa rasa bersalah. Slow living bukan tentang seberapa lambat kehidupan fisik kita bergerak, melainkan tentang kemampuan untuk hadir dan menyadari bagaimana kita sedang menjalani hidup yang ada di depan mata.
Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah
Sebelum membaca buku ini, saya sempat mengira bahwa slow living hanyalah istilah yang diperhalus untuk meromantisasi rasa malas. Ternyata tidak demikian. Ada batas tegas antara berhenti karena tak ingin melakukan apa-apa dengan sengaja mengambil jeda untuk memberi nutrisi bagi diri sendiri. Yang pertama sering kali menyisakan rasa bersalah, sedangkan yang kedua adalah bentuk kepedulian yang sehat pada jiwa dan raga.
Saya sangat sepakat dengan gagasan bahwa istirahat bukanlah kemewahan yang baru boleh diklaim setelah seluruh pekerjaan tuntas. Sebab jika harus menunggu semua urusan selesai, kapan kita benar-benar bisa beristirahat? Pekerjaan rumah akan selalu ada, pesan akan terus masuk, tagihan akan selalu datang, dan to-do list tidak akan pernah benar-benar habis.
Oleh karena itu, kita perlu belajar mengambil jeda tanpa rasa bersalah: membaca beberapa halaman buku, menikmati cangkir kopi tanpa sibuk mengusap layar ponsel, atau sekadar duduk hening sejenak setelah melangkah pulang.
Menemukan Ritme dan Mengukur dengan Alat Ukur Kita Sendiri
Pada akhirnya, slow living adalah tentang menemukan ritme yang pas dengan denyut kehidupan kita masing-masing. Sebab, pola hidup setiap orang memang berbeda. Ada yang berenergi dengan jadwal padat, ada yang butuh waktu lebih lama untuk memulai hari; ada yang menikmati multitugas, dan ada pula yang merasa cukup dengan menuntaskan satu hal penting dalam sehari. Tidak ada satu ukuran baku yang berlaku untuk semua orang.
Kita sering kali terjebak menggunakan kehidupan orang lain sebagai penggaris untuk mengukur perjalanan sendiri. Melihat orang lain melaju cepat, kita panik; melihat orang lain lebih produktif, kita merasa hari kita terbuang sia-sia. Padahal, kita sedang menempuh trek yang berbeda, dan tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kecepatan yang sama.
Lagipula, hidup bukan sekadar perlombaan untuk cepat-cepat sampai ke garis finis. Jika hidup hanya diartikan sebagai “sampai”, kita akan terus menunda kebahagiaan, menunggu pekerjaan selesai, menunggu tabungan cukup, atau menunggu semua urusan beres. Masalahnya, hidup hampir tak pernah benar-benar tuntas. Jika tidak dinikmati sekarang di sela-sela kesibukan, lalu kapan lagi?

Pelan-Pelan dengan Kehidupan yang Kita Miliki
Setelah menuntaskan buku ini, saya tentu tidak mendadak menjadi sosok yang menjalani slow living secara sempurna. Besok pagi saya tetap akan bangun, bekerja, mengurus rumah, dan menghadapi rutinitas yang sama. Saya pun belum berada di titik yang bisa melepaskan semua tanggung jawab pekerjaan.
Namun, saya bisa mulai memilih hal-hal kecil: minum kopi tanpa terburu-buru, membaca beberapa halaman buku di sela waktu luang, menikmati perjalanan pulang, serta berhenti sejenak saat tubuh dan pikiran mulai jenuh.
Slow living tidak harus berbentuk rumah kayu nan tenang di pinggir kota atau pagi hari tanpa dering alarm. Kadang, ia hanya berupa kemampuan untuk tetap hadir secara utuh di tengah kesibukan yang ada, dengan pekerjaan yang menumpuk, tagihan yang harus dibayar, dan segala keterbatasan yang kita miliki.
Ia bukan ajakan untuk berhenti berusaha atau menjadi malas, melainkan pengingat bahwa hidup tidak harus selalu dikejar sampai lelah. Kita boleh bercita-cita dan bekerja keras, tetapi semoga di sepanjang jalan itu, kita tidak lupa melihat sekeliling, menikmati kopi yang tersaji, menyapa orang-orang tersayang, dan merasakan bahwa kita benar-benar sedang menjalani hidup, bukan sekadar menyelesaikan daftar tugas.
Bagi saya, itulah arti slow living yang sesungguhnya: menemukan sedikit ruang untuk bernapas di dalam kehidupan yang sedang kita jalani.
Pelan-pelan saja.